Women’s Amateur Asia-Pacific Punya Potensi Besar

0

Ketua Eksekutif R&A Martin Slumbers mengungkapkan gelaran perdana Women’s Amateur Asia-Pacific punya potensi besar. Sebagai ajang yang dikembangkan bersama Asia Pacific Golf Confederation (APGC) ajang ini sengaja dihadirkan untuk menjadi jalan bagi para pegolf elite wanita amatir menuju panggung internasional.

Slumbers melanjutkan, turnamen yang akan menjadi ajang tahunan ini memiliki potensi besar dan menjadi bagian dari visi menyeluruh untuk mengembangkan golf secara global, terutama untuk meningkatkan partisipasi golf wanita dan perempuan.

”Ketika melihat golf di seluruh dunia, yang menjadi dorongan saya ialah saya ingin memastikan golf masih terus berkembang hingga 50 tahun mendatang. Bagian pentingnya ialah mengembangkan golf bagi wanita, tak hanya di sini di Asia, tapi di seluruh dunia. Peluang terbesar golf untuk berkembang ialah dengan mengembangkan golf wanita,” ujar Slumbers dalam jumpa pers yang juga dihadiri oleh para pendiri Women’s Amateur Asia-Pacific (WAAP) di Sentosa Golf Club, Singapura.

Dalam kerangka itulah ia menilai turnamen yang akan segera memiliki juara perdananya ini menjadi sangat istimewa. Slumbers menyebut, 48 peserta dari total 83 pemain adalah pemain berusia 18 tahun ke bawah.

”Kami ingin kejuaraan ini dipandang sebagai salah satu turnamen amatir top bagi wanita. Dengan memberikan hak khusus bagi sang juara (untuk bermain dalam dua ajang Major, ANA Inspiration dan Ricoh Women’s British Open) kejuaraan ini akan memiliki status tersebut dan berada di jajaran ajang amatir elite,” ujarnya lagi.

Konsep untuk kejuaraan ini sebenarnya sudah mulai dibicarakan sejak 2015  ketika ajang Asia-Pacific Amateur Championship, turnamen yang juga diprakarsai oleh R&A dan APGC, bersama Masters Tournament, diselenggarakan. Prestasi membanggakan pegolf wanita dalam ajang Olimpiade Rio de Janeiro juga mendorong dibentuknya kejuaraan ini. Kala itu pegolf Korea Park Inbee, pegolf Selandia Baru Lydia Ko, dan pegolf China Feng Shanshan masing-masing meraih emas, perak, dan perunggu.

”Tiga tahun lalu pada ajang pria (Asia-Pacific Amateur Championship) kami mendiskusikan untuk menciptakan ajang serupa bagi para pegolf wanita. Ide asli pada Asia-Pacific Amateur Championship ialah ’Menciptakan Pahlawan’ dan menunjukkan kepada dunia bahwa golf benar-benar berkembang di wilayah ini,” ujar Ketua APGC Kei Muratsu yang turut mendampingi Slumbers.

”Dengan slogan ”Membentuk Masa Depan”, ajang untuk wanita ini dibangun berdasarkan hasil luar biasa pada Olimpiade Rio 2016 di mana tiga pegolf teratas dan lima dari enam pegolf teratas saat itu berasal dari wilayah Asia-Pasifik. Korea juga memegang gelar juara pada Espirito Santo Trophy (World Amateur Team Championship untuk wanita), sedangkan para pegolf dari kawasan Asia-Pasifik juga telah menjadi kekuatan dominan pada LPGA Tour. Maka kejuaraan ini menjadi wadah yang bagus untuk menampilkan bintang-bintang masa depan dari kawasan kita,” sambung Muratsu lagi.

Keyakinan Slumbers dan Muratsu itu jelas menjadi harapan bagi publik golf Asia-Pasifik, termasuk Indonesia. Indonesia sendiri mengikutsertakan enam pegolfnya. Meskipun hingga putaran final hanya tersisa Rivani Adelia Sihotang dan Patricia Sinolungan—setelah langkah Ribka Vania, Nathania Damarisa Rim, Michela Tjan, dan Kristina Nathalia Yoko terhenti pada putaran kedua—seperti halnya Asia-Pacific Amateur Championship, ajang WAAP ini akan menjadi panggung yang ideal bagi para pegolf putri dan wanita Indonesia untuk menuju level yang lebih tinggi lagi.

Hari ini (24/1) publik akan mendapatkan juara perdana turnamen ini, yang akan menerima undangan untuk mengikuti ANA Inspiration (29 Maret-1 April) di Mission Hills Country Club, California, AS dan Ricoh Women’s British Open (2-5 Agustus) di Royal Lytham & St Annes Golf Club di Lancashire, Inggris, plus mengikuti ajang LPGA Tour, HSBC Women’s World Championship yang juga dimainkan di Sentosa Golf Club.

Share.

Leave A Reply