Wajah Global PGA TOUR

0

Oleh Chuah Choo Chiang*

Xander Schauffele mungkin menjadi contoh terbaik dari PGA TOUR pada masa kini. Lahir di La Jolla, California, Amerika Serikat, pegolf yang kini berusia 24 tahun ini memiliki nama yang terdengar bukan Amerika. Ia memang memilik paspor AS, namun ayahnya separuh Perancis dan separuh Jerman. Sementara ibunya sendiri separuh Taiwan.

”Saya memiliki latar belakang yang sangat internasional. Tapi saya belum punya kesempatan untuk banyak melakukan perjalanan,” ujar Schauffele, yang terkenal setelah memenangkan ajang penutup musim, TOUR Championship, bulan September 2017 lalu, yang membantunya finis di peringkat ketiga FedExCup.

”Ayah saya separuh Perancis, separuh Jerman. Ibu saya orang Taiwan, tumbuh di Jepang. Keren juga sih lantaran golf memungkinkan saya memulainya di Malaysia ini, lalu ke Korea, lalu China. Sejak kecil, saya selalu bermimpi untuk bermain di PGA TOUR dan menggunakan golf sebagai jalan untuk menempuh perjalanan. Saya tidak pernah, meskipun punya latar belakang internasional, saya belum pernah punya kesempatan melakukan banyak perjalanan.”

Schauffele dan sejumlah pemain PGA TOUR memang bersiap untuk melakukan perjalanan menuju masa depan setelah menghabiskan tiga pekan bertanding pada ajang besar PGA TOUR di Asia.

Setelah rehat dua pekan, PGA TOUR musim 2017-18 mulai berlangsung pada awal Oktober lalu dengan Safeway Open di Napa, California, yang dimenangkan oleh Brendan Steele. Kemudian TOUR ini berputar penuh ke Timur Jauh, dimulai dengan gelaran ke delapan CIMB Classic di Malaysia, diikuti oleh debut CJ CUP @ NINE BRIDGES di Korea Selatan, dan World Golf Championships-HSBC Champions di China.

Tiga pemberhentian di Asia ini merupakan bagian dari perluasan jadwal FedExCup PGA TOUR yang mencakup 49 turnamen. Perluasan ini meliputi kunjungan ke lima negara berbeda di luar Amerika Serikat. Dan bagi bintang baru seperti Schauffale, yang memiliki warisan keluarga yang penuh warna, peluang untuk memperluas horisonnya jelas merupakan kesempatan yang tak mungkin ia lewatkan.

Saya sangat bersemangat memulai tahun di berbagai negara, ketimbang di Amerika Serikat,” ujar Schauffale. ”Kalau Anda mau menjadi pemain terbaik di dunia, Anda mesti menjadi pemain global. Anda mesti menghimpun penggemar dari berbagai negara dan main bagus di berbagai negara. Saya tak sabar menikmati peluang tersebut,” ujarnya.

Schauffale merupakan angkatan 2011, seperti Jordan Spieth, Justin Thomas, Emiliano Grillo, dan Daniel Berger, yang tampil di kancah PGA TOUR. Tapi generasi di atas mereka juga sama bersemangatnya melihat bagaimana golf kini berkembang di seluruh dunia.

Davis Love III, yang belum lama ini masuk menjadi anggota World Golf Hall of Fame, mengenang masa-masa lalu ketika ia terbang untuk mengikuti sejumlah turnamen di Asia.

”Tahun 1985, ketika saya mulai bermain di PGA TOUR, saya tak pernah mengira akan main di Malaysia di antara jadwal main di Pebble Beach dan kemudian New York, lalu Malaysia, lalu kembali main di Mississippi. Ini sungguh luar biasa. Rasanya negara itu jauh sekali…dan sekarang menjadi bagian dari TOUR kami,” ujar pegolf berusia 53 tahun ini. ”Ini benar-benar bukan US Tour. Ini PGA TOUR.”

Sebagai pemegang 21 gelar PGA TOUR, Love menyambut ekspansi global ini dan peluang untuk bersaing di Malaysia pada CIMB Classic, yang mulai digelar pertama kali pada 2010.

”Saya telah menyaksikan TOUR ini berkembang ke seluruh dunia. Dengan Canada Tour, Latin American Tour, main dua turnamen di Meksiko, tiga di Asia, TOUR ini benar-benar berkembang. Ini merupakan olahraga internasional,” ujarnya lagi.

”Kami harus menerima bahwa kami bermain di seluruh dunia. TOUR kami kini menjadi Tour dunia. Banyak orang dari seluruh dunia yang datang untuk bermain pada TOUR kami sebagai tempat bermain papan atas, jadi kami harus datang ke sini dan bermain. Ini rangkaian yang hebat. Target saya ialah bisa bermain pada ketiga turnamen (di Asia) pada tahun depan. Dan ini bakal jadi target yang bagus.”

 

* Chuah Choo Chiang mulai menjabat sebagai Senior Director Communications PGA TOUR dan berkantor di TPC Kuala Lumpur mulai Agustus 2017. Sempat bertugas sebagai jurnalis olahraga pada dua surat kabar terkemuka di Malaysia selama 10 tahun dan menjabat sebagai Deputy Sports Editor pada Sun Newspaper sebelum bergabung dengan Asian Tour pada tahun 2000 dan terakhir bertugas sebagai Director of Communications di sana.

Share.

Leave A Reply