Tabuena, Harding, dan Weber Bukukan 68

0

Tiga pemain dari tiga latar belakang berbeda, Miguel Tabuena asal  Filipina, Justin Harding dari Afrika Selatan, dan Lionel Weber asal Perancis, membukukan skor 4-under 68 untuk berada di puncak klasemen ketika ajang Mercuries Taiwan Masters kembali bergulir hari ini (27/9).

Tabuena, yang sempat nyaris menjuarai turnamen ini pada 2016 seakan kembali menemukan gairahnya bermain di Tamsui Course Taiwan Golf and Country Club. Pada hari pertama ini, ia mencatatkan lima birdie dengan hanya satu bogey.

Tabuena mengungkapkan, pencapaian skor tersebut tak terlepas dari keberuntungan, mengingat hujan justru berhenti sebelum para pemain memulai tee off.

”Saya sangat puas dengan pukulan saya. Itu salah satu kunci untuk main bagus di lapangan ini. Putting saya juga sedang bagus,” sambung Tabuena.

Penampilannya kali ini merupakan penampilan ke delapan secara berturut-turut. Setelah empat kali gagal lolos cut, Tabuena selalu finis di zona sepuluh besar, termasuk ketika meraih posisi runner-up pada edisi 2016, satu stroke di belakang juara saat itu, Lu Wei-chih.

Tabuena sendiri tengah mengincar kemenangan keduanya pada level Asian Tour. Sebelumnya, ia meraih gelar Nasional Terbukanya pada 2015 silam. Sejauh ini pegolf berusia 23 tahun itu telah tiga kali finis di peringkat sepuluh besar pada musim ini dan berada di posisi 26 pada Asian Tour Habitat for Humanity Standings.

 

 

 

”Bisa memainkan putaran pertama saya di China Taipei dan menjadi salah satu pimpinan klasemen, saya pikir saya berhasil melakukan pekerjaan saya dengan baik.” — Justin Harding

 

 

 

”Siapa pun yang bisa mengendalikan trajektori bola dari tee dan bisa mengendalikan jarak pukul, akan bisa bermain bagus pekan ini,” tutur Tabuena lagi. ”Ini salah satu lapangan di mana Anda bisa mendapatkan skor yang rendah pada hari pertama, tapi bakal sulit melakukannya dalam dua putaran terakhir. Saya sudah sering main di sini. Saya pikir pengalaman sebelumnya akan membantu saya. Semoga saja saya bisa mempertahankan permainan ini besok.”

Sementara itu, Harding yang menjadi pegolf pertama yang sukses menjuarai dua turnamen berturut-turut—Bank BRI Indonesia Open dan Royal Cup—pada musim pertamanya bermain di Asian Tour juga menorehkan skor yang sama, dengan kombinasi yang berbeda. Dengan mempertahankan permainan konservatif, seperti ketika menjuarai Bank BRI Indonesia Open bulan Juli lalu, ia membukukan sebuah eagle, lima birdie, dan dua bogey.

”Angin yang berputar membuat lapangan di sini menjadi cukup sulit, ini lapangan yang sulit,” tutur Harding. ”Tapi bisa memainkan putaran pertama saya di China Taipei dan menjadi salah satu pimpinan klasemen, saya pikir saya berhasil melakukan pekerjaan saya dengan baik.”

”Eagle di hole 7 par 5 itu jelas patut disoroti. Saya memukul dengan rescue dari jarak sekitar 228 yard hingga ke jarak sekitar satu kaki dan mendapatkan eagle tersebut,” sambung Harding.

”Saya punya strategi yang bagus untuk main di lapangan ini, jadi saya akan tetap mengikuti strategi saya dan semoga bisa main bagus.” — Lionel Weber

Seperti halnya Tabuena, Lionel Weber seakan menemuka permainan terbaiknya di lapangan ini. Ia bahkan berhasil bangkit setelah mendapat bogey di hole 16.

”Saya selalu menyukai lapangan ini. Green-nya berada dalam kondisi yang sangat bagus tahun ini dan saya amat menikmati permainan di lapangan hari ini,” tutur Lionel. ”Saya menuntaskan putaran ini dengan dua birdie di dua hole terakhir setelah bogey di hole 16.”

Weber juga menyebut pengalamannya bermain beberapa kali di lapangan ini turut membantunya untuk main bagus. ”Angin berembus kencang dan ini lapangan yang sulit,” ungkapnya. ”Saya punya strategi yang bagus untuk main di lapangan ini, jadi saya akan tetap mengikuti strategi saya dan semoga bisa main bagus.”

Tidaklah mengherankan jika pegolf asal Perancis ini berusaha tampil prima pekan ini. Tak seperti Tabuena dan Harding yang berada di zona aman pada Habitat for Humanity Standings—masing-masing berada di peringkat 26 dan 8—Weber berada di posisi 96. Artinya, ia butuh finis yang meyakinkan pekan ini untuk menembus zona 60 besar agar dapat mempertahankan kartunya untuk musim 2019.

Ketika ketiga pimpinan klasemen ini mengungkapkan betapa Taiwan Golf and Country Club adalah lapangan yang sulit, mereka tidak mengada-ada. Pimpinan Habitat for Humanity Standings, yang juga telah menciptakan pemberitaan besar di seluruh dunia, Shubhankar Sharma, harus menuntaskan putaran pertamanya dengan skor 2-over 74. Sebuah birdie dan tiga bogey membuatnya berada di peringkat T50.

Adapun pegolf Korea yang baru saja mencatatkan gelar Asian Tour kedua pada musim ini, Park Sanghyun, juga mengalami hal yang sama dengan Sharma. Park mencatatkan hanya dua birdie dengan dua bogey dan sebuah double bogey.

Praktis hanya ada 21 dari total 123 pemain yang bisa bermain under pada hari pertama ini.

Share.

Leave A Reply