Semua Fairway Mengarah ke PGA TOUR

0

Oleh Chuah Choo Chiang*

Jika ”semua jalan menuju Roma”, tentulah menjadi analogi olahraga yang tepat jika menyebut bahwa semua fairway yang terbentang di seluruh dunia akan mengarahkan mereka yang berbakat untuk menuju surganya golf yang dikenal sebagai PGA TOUR.

Sebagai puncaknya turnamen golf profesional, PGA TOUR telah memikat para pegolf terbaik di planet ini, yang kini melibatkan 88 pemain internasional dari 27 negara. Dan yang menarik adalah tiap anggota telah menempuh perjalanan unik dengan mengawalinya dari beragam titik keberangkatan, tapi pada akhirnya mereka mencapai tujuan terkemuka. Banyak pula di antaranya akan mengakui bahwa Tiger Woods telah menjadi inspirasi utama lain dalam perjalanan mereka mengejar impian.

Bagi Asia, jumlah bakat-bakat muda baru yang berangkat dari Korea Selatan, China, Jepang, India, dan China Taipei kini telah memenuhi impian Amerika mereka, dengan Kiradech Aphibarnrat menjadi yang terbaru. Kiradech telah mengumpulkan poin FedExCup yang cukup untuk menjadi pegolf Thailand pertama yang meraih kartu PGA TOUR untuk musim 2018-2019.

Kiradech yang baru berusia 28 tahun memulai petualangannya melalui Asian Tour. Keberhasilannya di sana kemudian membawanya ke European Tour. Dari sana, ia mulai meraih sejumlah kemenangan untuk berhak mengikuti World Golf Championship dan mencatatkan dua kali finis di lima besar, yaitu pada WGC-Mexico Championship dan WGC-Dell Technologies Match Play, yang membuka jalan baginya menuju PGA TOUR tahun ini.

Dalam kasus bintang asal Jepang Hideki Matsuyama, nama pegolf yang kini berusia 26 tahun ini melambung ke kancah utama itu pada 2013 setelah enam kali masuk 25 besar dalam tujuh turnamen yang ia ikuti. Ia pun meraih kategori non-anggota. Dunia telah melihat bakatnya ketika ia menjuarai Asia-Pacific Amateur Championship pada 2010 dan 2011. Sejak saat itu, ia sudah menjuarai lima gelar PGA TOUR, termasuk dua World Golf Championship.

Calon bintang Asia lainnya telah menempuh rute yang lebih berat lagi. Salah satunya ialah pegolf Korea An Byeonghun, yang lebih dikenal dengan panggilan Ben An. Ia belajar golf ketika masih berusia 5 tahun, meskipun kedua orangtuanya merupakan peraih medali Olimpiade untuk cabang tenis meja. Seiring pertumbuhan minatnya pada golf, ia pun dikirim ke Amerika Serikat saat berusia 15 tahun untuk sekolah dan mengikuti program golf pada IMG Academy di Bradenton, Florida.

Dalam dua tahun, ia tak hanya belajar berbicara dan menulis dalam bahasa Inggris, tapi secara sensasional juga menjuarai ajang prestisius U.S. Amateur, sekaligus menjadi juara termuda dalam sejarah turnamen tersebut. Karier kampus pada University of California-Berkeley juga ia alami, tapi pegolf Korea ini menyudahi kuliahnya lantaran menyadari panggilan karier golf profesional. Tapi dalam upaya pertamanya mengikuti PGA TOUR Qualifying School, ia justru gagal dan terdampar untuk mengikuti European Challenge Tour, yang mengirimnya ke tempat-tempat sejauh Kenya, Azerbaijan, Oman, dan Kazakstan.

Namun, sirkuit kelas dua Eropa itu justru membuatnya tangguh. Bintang An pun segera bersinar ketika ia menempuh jalan menuju European Tour dan mencatatkan kemenangan besar pada BMW PGA Championship 2015 di Wentworth. Dalam tahun-tahun berikutnya, ia mencatatkan lima kali finis 25 besar dalam 14 turnamen yang memberinya kartu PGA TOUR dengan kategori non-anggota. Pegolf ramah ini pun berkali-kali nyaris menorehkan kemenangan perdananya di Amerika, dan dengan menyakitkan harus menerima kekalahan pada bulan Juni lalu lewat play-off pada ajang Memorial Tournament dari Bryson Dechambeau.

”PGA TOUR adalah yang terkemuka. Saya selalu bersiap untuk menanjak secara perlahan. Pada tahun pertama saya kehilangan kartu European Challenge Tour, kembali mengikuti Q-School dan finis di peringkat 30 dan 4 untuk mendapatkan kartu European Tour saya. Dan sekarang saya berada di PGA TOUR. Semua (kerja keras) itu berhasil,’ ujar Ahn.

 

 

”Sejak kecil saya selalu ingin berada di PGA TOUR. Ini buah dari latihan dan kerja keras selama 12 tahun. Anda mesti merelakan banyak hal, hobi Anda”
Dou Zecheng

 

 

 

Secara kontras, Dou ”Marty” Zecheng memulai jalannya dari negeri sendiri, ketika PGA TOUR Series-China satu dari tiga tour pengembangan prakarsa PGA TOUR, memainkan peran yang penting. Saat berusia 6 tahun, ia belajar golf di Vancouver, ketika ia menghabiskan lima tahun di Kanada bersama keluarganya lantaran sang ayah ingin agar ia dan saudara perempuannya belajar bahasa Inggris dan mengalami kehidupan Barat. Dou mulai menjuarai turnamen-turnamen junior, termasuk kelompok usia 13-14 World Junior, mewakili China pada Asian Games, bermimpi bisa bermain bersama Woods, dan beralih profesional dalam usia masih 17 tahun setelah menerima undangan untuk mengikuti WGC-HSBC Champions di Shanghai.

Dengan PGA TOUR Series-China yang berjalan dengan baik, remaja fenomenal ini menjadi pemain dominan pada 2016 dan menjuarai empat kali untuk kemudian mendapat hak bermain pada Web.com Tour di A.S. Tren menanjak dalam kariernya pun berlanjut ketika ia menorehkan sejarah dengan menjuarai Digital Ally Open di luar Kansas City akhir Juli silam, yang membuatnya menjadi pegolf China pertama yang menjuarai ajang Web.com Tour. Ia finis di peringkat 16 pada daftar peraih hadiah uang dan menjadi pegolf pertama dari China daratan yang mendapatkan kartu PGA TOUR yang berharga itu.

”Ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan! Sejak kecil saya selalu ingin berada di PGA TOUR. Ini buah dari latihan dan kerja keras selama 12 tahun. Anda mesti merelakan banyak hal, hobi Anda,” ujar Dou, penggemar game E-sport dan pengguna reguler WeChat untuk berkomunikasi dengan keluarga dan sahabatnya di China.

Pegolf China Taipei, C.T. Pan kini menikmati musim keduanya pada PGA TOUR. Ia pun harus menempuh jalur tour pengembangan. Setelah menikmati karier amatir yang meyakinkan dengan empat kali menjadi All-Americak pada University of Washington, ia berkompetisi pada Mackenzie Tour PGA TOUR Canada dan menang dua kali pada 2015. Setelah promosi ke Web.com Tour, pegolf berusia 26 tahun ini finis sepuluh besar sebanyak tujuh kali dan finis di peringkat 11 pada daftar raihan hadiah untuk mengamankan kartu PGA TOUR. Pada musim perdananya tahun lalu, ia tiga kali finis di sepuluh besar, sedang tahun ini ia tujuh kali finis di 25 besar.

”Saya kira saya mesti menghabiskan beberapa tahun di Web.Com, tapi jika melihat karier pro saya, saya hanya butuh 15 bulan untuk menembus PGA TOUR, dan saya senang dengan prestasi ini. Ini impian saya. Saya selalu merasa sanggup berada di PGA TOUR,” ujar Pan.

Dari dibesarkan di kota, seperti Taipei dan Vancouver, lalu mengikuti kompetisi di sejumlah tempat, seperti Toronto, Muscat, dan Nairobi, pemain seperti Pan dan sejumlah besar bintang Asia menunjukkan bahwa ada lebih dari satu jalan untuk menuju PGA TOUR.

 

Chuah Choo Chiang mulai menjabat sebagai Senior Director Communications PGA TOUR dan berkantor di TPC Kuala Lumpur pada Agustus 2017. Sempat bertugas sebagai jurnalis olahraga pada dua surat kabar terkemuka di Malaysia selama 10 tahun dan menjabat sebagai Deputy Sports Editor pada Sun Newspaper sebelum bergabung dengan Asian Tour pada tahun 2000 dan terakhir bertugas sebagai Director of Communications di sana.

Share.

Leave A Reply