Rose Mengejar Impian

0

Oleh Chuah Choo Chiang*

Para penulis headline dari seluruh dunia telah menikmati hari ketika Justin Rose, dengan sensasionalnya, memasukkan bola dari rough di hole ke-72 untuk finis di peringkat keempat pada The Open Championship 1998. Kala itu ia baru berusia 17 tahun.

Dari pencapaian mengagumkan tersebut hingga 21 kali berturut-turut gagal lolos cut, segera seusai beralih profesional, Rose jelas telah berkembang menjadi salah satu anak emas asal Inggris yang sangat dinanti-nantikan oleh para penggemarnya di Asia. Terutama ketika ia mempertahankan gelarnya pada World Golf Championships-HSBC Champions bulan Oktober mendatang.

Dalam era ketika generasi baru berusia 20-an seperti Justin Thomas, Jon Rahm, dan Jordan Spieth mengancam dominasi, Rose, yang kini berada dalam usia matang 37 tahun, telah membuktikan diri bahwa ia memiliki kemauan dan kemampuan untuk membuat para penggemarnya bergairah.

Rose, yang ketika artikel ini ditulis berada di peringkat 3 dunia, merupakan peraih medali emas Olimpiade, juara Major, pemegang 11 kemenangan European Tour dan 9 di ranah PGA TOUR, termasuk dua gelar World Golf Championship.

Tak hanya sebagai individu yang santun dan pegolf yang tangguh, Rose juga berjiwa dermawan. Bersama istrinya, Kate, mereka mendirikan Kate and Justin Rose Foundation. Yayasan ini berfokus meningkatkan kehidupan anak-anak dengan memberi dukungan nutrisi, membiayai pendidikan, dan memperkenalkan pengalaman hidup yang positif kepada anak-anak.

PGA TOUR musim 2017-2018 juga segera mencapai klimaksnya dengan FedExCup Playoffs pada bulan September ini. Dan Rose tentu kembali merasakan getaran-getaran positif, mengingat persis setahun yang lalu ia menghadirkan sensasi kejutan yang sangat dramatis.

Dalam 23 turnamen yang ia ikuti di seluruh dunia, ia meraih empat kemenangan, yaitu di China, Turki, Indonesia, dan Amerika. Ia juga finis di sepuluh besar dalam 14 turnamen lainnya dan, perlu dicatat, tak sekali pun ia kena cut-off dalam periode terbaiknya itu, mulai September tahun lalu sampai saat artikel ini ditulis!

Kemenangannya pada WGC-HSBC Champions di Sheshan International Golf Club sungguh menakjubkan. Mengawali putaran final dengan tertinggal delapan stroke dari pegolf No.1 dunia Dustin Johnson, dan dengan target sederhana untuk finis di tempat kedua, Rose memainkan putaran terbaik dalam hidupnya: menjuarai turnamen prestisious itu dengan keunggulan dua stroke dengan bermain 5-under 67 di bawah kondisi angin yang berembus kencang.

”… WGC, ketika Anda mengalahkan para pemain top dunia, kemenangan dalam sebuah turnamen menjadi lebih berarti, dan tentu saja dengan klasemen yang dihuni oleh para pemain, seperti Dustin, Brooks (Koepka), dan (Henrik) Stenson, saya merasa sangat bangga bisa menjuarai turnamen ini,” ujar Rose.

”Dan menang di China, melakukan perjalanan dan membawa permainan Anda ke kancah internasional, saya pikir hal ini merupakan sesuatu yang sangat penting untuk dilakukan.China adalah negara golf yang sangat penting, dan juga negara golf yang tengah berkembang. Jadi, sangatlah penting untuk bisa menang di hadapan para penggemar di sini.”

”Rasa percaya diri yang saya peroleh dari mengejar ketertinggalan delapan stroke dalam sebuah turnamen besar, menghadapi para pegolf kelas dunia, sangat membantu saya mengakhiri tahun lalu dengan membanggakan dan saya masih mempertahankan momentum saya sejak saat itu. Saya akan merasa sangat bangga bisa berdiri di tee pertama di Sheshan dan diperkenalkan sebagai juara bertahan.”

 

 

Phil Mickelson, juara WGC-HSBC Champions pada 2007 dan 2009, menyebut, ”Para penggemar di China tak seperti di bagian dunia lainnya dalam hal energi dan antusiasmenya.”

 

 

 

 

Kemenangan besar Rose jelas memperpanjang daftar nama besar yang telah menjuarai WGC-HSBC Champions sebelumnya, termasuk jawara Major, seperti Phil Mickelson, Dustin Johnson, Sergio Garcia, Bubba Watson, Y.E. Yang, Martin Kaymer, dan Francesco Molinari.

Sederet kampiun dunia lainnya juga bakal sekali lagi memfokuskan perhatian mereka ke Timur Jauh dan berpartisipasi dalam turnamen dengan hadiah terbesar di Asia, yang kini mencapai rekor terbesar, US$10 juta, mulai 25-28 Oktober mendatang.

Sejak pertama kali digelar pada 2005, banyak bintang dunia yang telah bermain di Sheshan dan menyanjung penyelenggaraan WGC-HSBC Champions ini. Mickelson, juara turnamen ini pada 2007 dan 2009, menyebut, ”Para penggemar di China tak seperti di bagian dunia lainnya dalam hal energi dan antusiasmenya.” Megabintang kidal ini juga menyebut turnamen ini sebagai ”Major-nya Asia”.

Rose akan bertekad menjadi pegolf pertama yang bisa mempertahankan gelarnya di Shanghai, terutama setelah mengungkapkan ambisinya untuk menjadi No.1 dunia pada satu masa dalam rentang kariernya yang sukses.

”Saya ingin meraih status No.1 dunia dengan menjuarai turnamen-turnamen golf. Peluang itu bakal ada dalam enam bulan ke depan. Saya bisa meraih target tersebut dengan finis di tempat ke-7 dalam suatu turnamen karena bakal ada pergerakan (peringkat). Saya ingin meraih status No. 1 dunia dengan kemenangan, dan itu membuat target saya menjadi sederhana.”

”Mungkin saya memiliki tiga, empat, lima tahun lagi untuk memaksimalkan karier saya, untuk menempatkan prestasi istimewa di puncak karier saya. Dan standarnya kian meningkat. Persaingan masa kini menjadi sangat ketat sehingga sungguh berat melapangkan jalan Anda menuju lima besar dunia dengan begitu banyaknya kemenangan yang diraih oleh para pemain muda. Kita telah melihat periode ketika Tiger bisa menang lima, enam, tujuh, delapan gelar per tahun. Tapi kini Anda melihat ada empat sampai lima pemain yang meraih banyak gelar dalam semusim. Seperti itulah level permainan yang mesti Anda mainkan.”

Dan, Tuan dan Puan sekalian, persis seperti itulah Justin Rose sejak ia tampil ke permukaan sebagai seorang remaja kurus berjerawat.

 

Chuah Choo Chiang mulai menjabat sebagai Senior Director Communications PGA TOUR dan berkantor di TPC Kuala Lumpur pada Agustus 2017. Sempat bertugas sebagai jurnalis olahraga pada dua surat kabar terkemuka di Malaysia selama 10 tahun dan menjabat sebagai Deputy Sports Editor pada Sun Newspaper sebelum bergabung dengan Asian Tour pada tahun 2000 dan terakhir bertugas sebagai Director of Communications di sana.

Share.

Leave A Reply