Nomor Satu Dunia, Luar dan Dalam

0

Oleh Chuah Choo Chiang*

Dalam usia yang baru 25 tahun, Thomas telah menjuarai FedExCup, memegang delapan gelar PGA TOUR, memenangkan satu gelar Major dan masih akan bertambah, ia mencatatkan skor istimewa 59 sekaligus menjadi pegolf favorit—pada bulan Mei, ia juga membantu lamaran pernikahan seorang penggemar menjadi sensasi di Twitter dan berita utama pada CNN World Sports.

Para pesohor di kalangan olahraga dan dunia hiburan, termasuk Michael Jordan, Stephen Curry, Tiger Woods, Kid Rock, Tom Brady, dan Justin Timberland merupakan beberapa teman Thomas. Ia nongkrong dengan Jordan Spieth, Rickie Fowler, dan Smylie Kaufman semasa musim semi mereka yang terkenal, dan ia juga bermain golf dengan Presiden AS Donald Trump.

Meskipun ketenarannya melambung dan kekayaannya kini berlimpah—Thomas telah mendapatkan lebih dari US$22 juta dari hadiah uang kemenangan hanya dalam tiga tahun lebih sedikit—ia masih tetap rendah hati, yang ironisnya sangat berkebalikan dengan swing-nya yang dinamis, yang membuat tubuhnya terangkat pada jari kaki kanannya pada titik impact. Tenaga yang dihasilkan melambungkan bola dengan jarak pukul yang mengagumkan untuk seorang pria yang hanya setinggi 1,77 meter dan berat hanya 65 kg.

Sebagai putra seorang pelatih profesional PGA, Thomas menjadi pegolf termuda keempat yang menyandang No.1 dunia setelah Woods, Rory McIlroy, dan Spieth pada pertengahan Mei lalu. Ia meraih posisi itu berkat finis di tempat ke-11 pada THE PLAYERS Championship, ajang flagship PGA TOUR.

Begitu bersemangatnya ia sampai ia masih tetap bangun pada malam hari, menanti dengan setia di depan website resmi ranking di-refres dengan namanya muncul di atas. ”Saya menunggu sampai halaman itu di-refresh dan melihat (nama saya) dan kelihatannya keren juga. Melihat pegolf lain di seluruh dunia ada di belakang nama saya rasanya menyenangkan juga,” ujar Thomas yang mengambil screenshot halaman itu untuk ia simpan.

”(Posisi itu) sangat berarti, tapi saya ingin memilikinya untuk jangka waktu yang panjang, bukan sesuatu yang hanya saya dapatkan sekali. Tak hanya memilikinya untuk sepekan—pemain seperti D.J. (Dustin Johnson) dan seperti Tiger dan juga pemain lain yang telah mendapatkan status nomor satu itu untuk jangka waktu yang panjang, itu lebih menjadi target buat saya daripada sekadar memilikinya. “

Pemukul Jauh Johnson segera meraih ranking teratas dengan kemenangan PGA TOUR ke-18 pada FedEx St. Jude Classic bulan Juni, tapi sangat pasti kalau Thomas bakal terbakar akan  tantangan meraih predikat No.1 itu sepanjang sisa musim 2017-2018 dan ke depannya.

Para penggemar golf di Asia, terutama mereka yang ada di Malaysia, telah beruntung bisa menyaksikan Thomas mengumumkan kehadirannya di panggung besar. Ia meraih gelar pertama PGA TOUR-nya pada CIMB Classic di TPC Kuala Lumpur pada tahun 2015 dan 12 bulan kemudian kembali untuk mengulangi prestasi tersebut.

Gelar kedua di Malaysia itu sekaligus menjadi batu loncatan untuk kampanye mengagumkan pada PGA TOUR musim 2016-2017, yang membawanya meraih empat kemenangan lainnya, termasuk Major pertamanya pada PGA Championship dan menuntaskan musim yang panjang dan prestisius dengan juara FedExCup dan penghargaan Player of the Year.

”Bisa menang dua kali berturut-turut (di Malaysia) menempati peringkat atas prestasi saya,” ujar Thomas tahun lalu.

”Melihat pegolf lain di seluruh dunia ada di belakang nama saya rasanya menyenangkan juga.” — Justin Thomas

Dari awalnya menampilkan sekadar bakat dan keuletan—ia bangkit dari double bogey dan mencatatkan tiga birdie berturut-turut di sembilan hole terakhir untuk mengungguli Adam Scott dengan satu stroke di Malaysia pada 2015—hingga mendapatkan banyak nasihat dari legenda golf Jack Nicklaus yang menyarankan dia untuk bermain konservatif ketika ia tak memiliki performa terbaiknya, Thomas telah menjadi pegolf yang komplet dalam upayanya menjadi pegolf terbaik di planet ini.

Kemenangannya pada ajang perdana CJ CUP @ NINE BRIDGES di Korea Selatan Oktober tahun lalu juga merupakan kemenangan besar yang menguatkan pengakuan dan karakternya. Berjuang menghadapi rasa lelah, ia memaksimalkan potensinya untuk mengalahkan Marc Leishman dalam babak play-off.

Kartu skor Thomas pada musim ini juga terlihat mengesankan, dengan kemenangan pada Honda Classic pada bulan Februari, empat kali masuk sepuluh besar, empat lainnya masuk dua puluh besar, dan tak pernah gagal lolos cut dalam 11 turnamen ketika artikel ini ditulis.

Ia juga berhasrat untuk menorehkan sejarah karena belum pernah ada juara FedExCup yang memenangkannya dua kali berturut-turut, tak juga Woods pada masa-masa dominannya. ”Itu sesuatu yang ingin saya lakukan,” ujarnya.

Woods, pemegang 14 gelar Major, menghabiskan 683 pekan berada di puncak ranking dunia sebelum akhirnya tergusur pada 2014 dengan Johnson berada di posisi itu selama 64 pekan. Thomas sendiri hanya sempat merasakannya sebentar, tapi mengingat ranking dunia sangat dinamis, peringkat itu bisa berubah dengan sangat cepat. Dan Thomas yakin ia masih punya amunisi untuk bersaing.

Mike, ayahnya, memberi tahu Sports Illustrated pada bulan Juni bahwa putranya sangat berhasrat untuk menang. ”Ia tidak takut untuk menjadi sukses. Banyak orang yang takut. Mereka suka berada di peringkat empat atau lima. Itu posisi nyaman. Justin justru kesal jika berada di tempat kedua. Itu hal-hal yang tidak bisa Anda ajarkan,” jelas Mike.

Sudah jelas, Thomas tak terpengaruh untuk menjadi salah satu nama besar dalam golf. Meskipun memiliki status pesohor, ia tetap rendah hati, mudah dijumpai, dan sangat menghormati orang lain. Kalau tidak, buat apa dia memenuhi permintaan penggemar via Instagram untuk menolongnya mengajukan lamaran pernikahan? ”Akhirnya berjalan dengan baik,” ujar Thomas.

Entah dia berada di lapangan atau di luar lapangan, jelas Thomas telah membuktikan bahwa ia adalah pemain No. 1, terlepas dari bagaimana cara Anda melihatnya.

 

Chuah Choo Chiang mulai menjabat sebagai Senior Director Communications PGA TOUR dan berkantor di TPC Kuala Lumpur pada Agustus 2017. Sempat bertugas sebagai jurnalis olahraga pada dua surat kabar terkemuka di Malaysia selama 10 tahun dan menjabat sebagai Deputy Sports Editor pada Sun Newspaper sebelum bergabung dengan Asian Tour pada tahun 2000 dan terakhir bertugas sebagai Director of Communications di sana.

Share.

Leave A Reply