Mengejar Prestasi, Menggapai Prestise

0

Sebuah turnamen bisa dipandang memiliki prestise dengan melihat beberapa hal. Keikutsertaan peserta yang menyandang status terbaik dunia jelas bisa menjadi salah satunya. Selain itu, ada pula dari sisi konsistensi penyelenggaraan dan hadiah uang yang diperebutkan, serta dari sejarah panjang yang dibangun oleh kejuaraan tersebut. Tak heran jika para pegolf profesional—dan amatir—tak sekadar mengejar prestasi, tapi juga mengejar prestise ketika bermain dalam turnamen demikian.

Ajang Indonesia Open dalam beberapa hal jelas masuk kategori turnamen prestisius. Pertama, turnamen ini memiliki sejarah yang paling panjang dari sekian banyak turnamen golf yang pernah diselenggarakan di Indonesia. Sejak pertama kali digelar pada 1974, Indonesia Open sudah digelar 36 kali dengan pekan ini menjadi penyelenggaraan ke-37.

Memang dari segi peserta dengan ranking dunia yang tinggi, hanya John Catlin yang menyandang peringkat dunia tertinggi yang bermain pekan ini di Pondok Indah Golf Course, Jakarta. Pegolf Amerika ini berperingkat 150 dan tengah berada dalam kondisi terbaiknya, setelah menjuarai Sarawak Championship minggu lalu, setelah beberpa pekan sebelumnya menjuarai Asia-Pacific Classic sebagai gelar Asian Tour pertamanya.

Lalu dari sisi sponsor, ajang ini kembali mendapat mitra yang sangat tepat dengan kehadiran Bank BRI sebagai sponsor utama. Bank negara dengan aset terbesar, yaitu Rp1.076,43 triliun per akhir 2017 lalu ini melanjutkan komitmen partisipasinya mengembangkan golf sejak pertama kali menjadi sponsor besar pada edisi 2014. Sebab bukankah ini pasangan ideal, mengingat Bank BRI merupakan bank tertua di Indonesia, sementara Indonesia Open sendiri merupakan turnamen tertua dan terpanjang yang pernah digelar di Indonesia.

Hadiah total yang disediakan kali ini juga mengalami peningkatan. Setelah dua tahun terakhir hanya memperebutkan US$300.000, dengan sang juara hanya membawa pulang US$54.000, tahun ini Bank BRI Indonesia Open menyuguhkan total US$500.000. Jumlah ini jelas ”tidak seberapa” dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, namun mengingat kondisi ekonomi saat ini, angka ini terbilang besar. Terlebih mengingat komitmen sponsornya, yang kali ini didukung juga oleh PLN, Telkom Indonesia, dan Pertamina, Wika, dan Batik Air yang membuka peluang jangka panjang untuk mensponsori turnamen istimewa ini.

Komitmen sponsor seperti ini menjadi bagian dari upaya mengejar prestasi dan menggapai prestise tersebut. Dan bak gayung bersambut, para pegolf profesional yang menjadi anggota Asian Tour, juga para pegolf profesional dan amatir terbaik di Indonesia akan mulai berjuang ketika tee off dimulai esok pagi (12/7).

Tahun lalu, tiga pegolf Indonesia—Rory Hie (12), Danny Masrin (T21), dan Rinaldi Adiyandono (T59)—mengusung bendera Indonesia hingga putaran final. Peluang Indonesia untuk memiliki lebih banyak lagi putra-putra terbaiknya pada putaran final kali ini jauh lebih besar lagi.

Selain ketiga nama tersebut, masih ada George Gandranata, Indra Hermawan, Fajar Win Nuryanto, Joshua Andrew Wirawan, dan Elki Kow yang punya kapasitas melakukan hal tersebut dari kategori profesional. Dengan George telah menjadi pegolf Indonesia pertama yang menjuarai ajang Asian Development Tour, Indra Hermawan merupakan pemain yang cukup senior yang kerap memberi kejutan. Adapun Fajar, Joshua, dan Elki merupakan tiga dari sekian banyaknya gelombang angkatan muda yang menunjukkan perkembangna yang signifikan.

Sementara dari kelas amatir, untuk pertama kalinya Indonesia memiliki pemain amatir yang masuk 60 besar dunia. Naraajie Emerald Ramadhan Putra menjadi pegolf Indonesia pertama yang menembus zona tersebut dengan peringkatnya sebelum mengikuti Bank BRI Indonesia Open ini ialah 56. Ia menjadi pegolf amatir paling sensasional sejak mencatatkan begitu banyak sejarah, termasuk menjadi pegolf Indonesia pertama yang terpilih masuk Junior Presidents Cup. Dan sejak saat itu ia juga telah menjuarai dua turnamen Indonesian Golf Tour pada tahun ini (Seri 3 dan Seri 5).

Selain Naraajie, masih ada Jonathan Wijono yang baru saja menjuarai turnamen amatir di Singapura, Warren MST Amateur Open. Terlepas dari keberuntungan, sebagaimana ia akui, kala menjuarai turnamen tiga hari tersebut, Jonathan mengaku telah berkembang pesat sebagai seorang pemain berkat keberadaannya sebagai salah satu anggota Tim Nasional yang akan berlaga pada ajang Asian Games bulan Agustus 2018 mendatang.

Nama Almay Rayhan Yaqutah juga tidak bisa tidak disebut. Ia menjadi satu-satunya pemain amatir yang sukses berlaga empat hari pada edisi 2016. Saat itu ia mencatatkan 5-under 283 dan finis T27. Dari sekadar bermain dan dengan mengejutkan sukses lolos cut, Almay juga tellah tumbuh menjadi pemain yang lebih kuat lagi, terutama dengan keyakinan diri dan kepercayaan diri yang jauh lebih baik sebagai seorang pegolf. Meskipun selama ini ia berada di bawah bayang-bayang Naraajie dan Kevin Caesario Akbar—Naraajie dan Kevin kerap mendominasi status Best Amateur Indonesian Golf Tour dalam dua tahun terakhir—kualitasnya telah membawanya menjadi bagian dari Tim Nasional untuk Asian Games.

Golf bukan olahraga yang mudah. Dengan dua gelar pada musim ini, John Catlin mungkin menjadi pegolf tersukses musim ini. Tapi ia sendiri pun mendaki level tertinggi di Asia ini melalui Asian Development Tour, meraih gelar profesional pertamanya di Indonesia, dan berkali-kali menyodok ke sepuluh besar sampai akhirnya bisa menang—Anda akan kagum dengan pembawaannya yang masih rendah hati!

Dengan pesaing yang kuat, seperti Gaganjeet Bhullar sebagai pemain yang berpeluang mencatatkan rekor kemenangan Indonesia Open terbanyak—tiga kali—plus juara bertahan Panuphol Pittayarat yang juga tengah berada dalam kondisi permainan yang prima seusai menjuarai Thailand Open beberapa pekan lalu, Anda bisa berharap mendapatkan drama yang luar biasa pekan ini.

George memuji tim di Pondok Indah Golf Course yang mempertahankan kondisi lapangan sehingga bisa prima pada pekan ini. Kualitas lapangan yang istimewa seperti ini pada dasarnya ikut mengangkat prestise turnamen. Dan didukung dengan musim kering saat ini, selain kualitas green dan fairway yang prima, setidaknya kita juga tidak perlu khawatir turnamen berakhir pada hari Senin, seperti pada edisi 2016.

Kalaupun ada hal lain yang patut dipuji dari penyelenggaraan Indonesia Open, itu adalah kebijakan membuka pintu selebar-lebarnya bagi publik golf di Indonesia agar bisa menyaksikan aksi para pegolf terbaik Asian Tour dan Indonesia. Lupakan soal VIP marquee karena itu ditujukan bagi sponsor dan mitra/nasabah mereka—kecuali Anda masuk kategori tersebut. Tapi tak perlu kecewa juga karena kenikmatan terbaik dalam sebuah turnamen ialah ketika Anda bisa menyaksikan langsung bagaimana para pegolf profesional menaklukkan Pondok Indah Golf Course, bukan dari VIP marquee, melainkan langsung dari jarak hanya beberapa meter—selama Anda tidak berisik!

Jelas ada banyak hal yang bisa kita harapkan dari Bank BRI Indonesia Open pekan ini. Tapi jelas apa pun harapan tersebut, baru akan bisa kita ketahui dan nikmati ketika kita berada langsung di sana. Jadi, selamat menikmati panggung istimewa ini!

Share.

Leave A Reply