Menanti Bintang Ikeda Bersinar Kembali

0

Tidak pernah absen mengangkat trofi sejak beralih profesional pada 2008. Lalu ia pun kini berada dalam posisi yang bagus untuk meneruskan tradisi prestasi tersebut. Akankah bintang Yuta Ikeda bersinar kembali lewat panggung Asia-Pacific Diamond Cup besok?

Pegolf Jepang berusia 32 tahun ini bisa dibilang sebagai salah satu pegolf paling konsisten. Sejak beralih profesional pada 2008, Ikeda langsung mengemas kemenangan pertamanya pada ajang Everlife Cup Challenge. Kala itu ia berlaga pada Japan Challenge Tour, Tour lapis kedua di bawah Japan Golf Tour.

Dalam dua musim pertamanya pada Japan Golf Tour, Ikeda membukukan masing-masing empat kemenangan. Dan setelah menjuarai satu turnamen tiap tahun dari periode 2011-2015, Ikeda membukukan membukukan tiga kemenangan pada 2016—salah satunya dengan menjuarai Panasonic Open Golf Championhsip yang digelar oleh Japan Golf Tour Organization (JGTO) dan Asian Tour—dan tiga kemenangan lainnya pada 2017.

Namun, untuk pertama kalinya dalam 10 tahun karier profesionalnya, Ikeda mulai terancam absen meraih gelar. Hingga jelang Asia-Pacific Diamond Cup pekan ini, yang sekali lagi menjadi kolaborasi JGTO dan Asian Tour, prestasi terbaiknya ialah finis T6 pada ajang Fujisankei Classic sekitar dua pekan lalu.

Bermain sebagai salah satu pegolf dengan peringkat dunia tertinggi kedua setelah Shugo Imahira, Ikeda kini membuka peluang untuk melanjutkan tradisi pribadinya itu. Pada akhir putaran ketiga tadi, Ikeda membukukan skor 5-under 66 dan berhasil mengambil alih pimpinan klasemen dari Hiroshi Iwata. Ikeda mencatatkan skor total 12-under 201 pada ajang yang dimainkan di Musashi Country Club ini.

Pada putaran ketiga tadi, Ikeda yang mencatatkan kemenangan 100% pada ajang EurAsia Cup awal tahun ini, menampilkan permainan yang tajam. Ia hanya meleset satu dari 18 green in regulation. Ia mengawali permainan hari ini dengan birdie, lalu membukukan empat birdie berturut-turut dari hole 12.

”Saya beruntung pukulan tee saya lurus-lurus hari ini. Kalau bisa melakukan hal yang sama besok, saya bakal berpeluang memenangkan trofi.” — Chang Yikeun

”Saya hanya berusaha untuk terus memberi kesempatan yang bagus (untuk mencatatkan birdie) dan memainkan hole berikutnya tanpa terlalu berekspektasi,” tutur Ikeda.

Permainan iron-nya pekan ini menjadi senjata terkuatnya. Selain mencatatkan rekor pribadi dengan bermain tanpa bogey dalam 54 hole, Ikeda juga hanya tiga kali meleset dari green in regulation. Jika bisa mengulangi performa ini pada putaran final besok, bukan tidak mungkin ia melanjutkan tradisi memenangkan minimal satu trofi dalam setahun.

”Kalau bisa menang besok, kemenangan itu bakal menjadi kemenangan ke-20 (pada Japan Golf Tour),” imbuh Ikeda lagi. ”Tapi saya ingin bermain tanpa memikirkan hal itu. Saya tak mau terlalu memberi tekanan pada diri sendiri. Saya sangat puas dengan skor dan permainan saya sejauh ini.”

Memang terlalu dini 18 hole untuk membicarakan kemenangan—siapa yang tidak tergoda melakukannya?

Tapi sikap Ikeda tersebut menunjukkan bahwa ia menyadari kalau posisinya juga tak sepenuhnya aman. Ia hanya unggul satu stroke dari pegol Korea, Chang Yikeun yang tadi mencatatkan skor terendah dengan bermain 7-under 64, di antaranya dengan membukukan eagle di hole 17.

”Saya memukul driver dengan sempurna dan memang tidak gampang memukul ke fairway di sini. Masih ada jarak sekitar 250 yard ke pin dan saya memukul dengan hybrid dan bolanya berhenti sekitar 12 kaki dari lubang,” tutur Chang.

”Saya beruntung pukulan tee saya lurus-lurus hari ini,” ujar Chang sambil tertawa. ”Kalau bisa melakukan hal yang sama besok, saya bakal berpeluang memenangkan trofi.”

Chang bukan satu-satunya yang berpeluang. Pegolf Amerika Kurt Kitayama dan Hiroshi Iwata, secara matematis, masih memiliki peluang menang. Keduanya berjarak empat stroke dari Ikeda.

Share.

Leave A Reply