Kebangkitan Naga dari China

0

Oleh Chuah Choo Chiang*

Pada The Masters Tournament 2008, mata Arnold Palmer tampak bersinar-sinar setelah mengetahui pegolf China Liang Wen-chong ikut berada di jajaran elit yang bermain di Augusta National. Legenda golf asal Amerika tersebut merasa sangat bangga mengetahui fakta bahwa Liang merupakan produk lapangan golf modern di China, Zhongshan Hotspring Golf Club, yang ia desain dan resmikan pada 1984.

”Saya pikir ini mengagumkan,” ujar Palmer melihat kehadiran Liang pada turnamen impian tersebut. ”Saya kira, kita baru melihat awal dari apa yang bakal terjadi di China dan Asia. Menurut saya hal ini akan menjadi sesuatu yang besar. Saya tahu hal ini saat membangun lapangan golf modern pertama di China, itu kesan yang saya dapat. Dan kini ada ratusan lapangan golf di seluruh China, yang artinya ada jutaan orang yang akan punya kesempatan untuk bermain golf.”

Omongan Palmer tersebut telah terbukti. Meski Liang dan Zhang Lian-wei menjadi pelopor jalan bagi golf profesional di China berkat kiprah mereka pada Asian Tour, generasi golf muda dan sangat berbakat telah mencuat ke panggung global dengan keberanian yang luar biasa.

Beberapa tahun lalu, pegolf amatir berusia 14 tahun Guan Tianlang memukau publik golf dengan menjadi pegolf termuda yang lolos cut pada The Masters Tournament. Dan kini para penggemar golf bakal mengingat dua pegolf China lainnya, Li Haotong dan Dou Zecheng.

Dalam musim panas yang akan selalu mereka kenang, Li dan Dou, masing-masing berusia 21 dan 20 tahun, menampilkan performa luar biasa yang diyakini banyak komentator bakal mewujudkan impian untuk memiliki juara Major kedua setelah kemenangan Y.E. Yang pada PGA Championship 2009.

Li, yang merupakan produk dari China Golf Association-HSBC Junior Golf Programme, finis dengan mengesankan di peringkat ketiga The Open Championship setelah bermain 8-under 63 pada putaran final di Royal Birkdale. Tahun 2015, Li berhasil finis di peringkat T7 pada World Golf Championship-HSBC Champions di negeri sendiri, mengimbangi pemain seperti Jordan Spieth dan Patrick reed untuk menunjukkan potensinya bermain ada panggung yang besar.

Putaran yang luar biasa di Royal Birkdale mungkin satu pukulan lebih banyak daripada skor 62 milik Branden Grace, yang kini menjadi putaran terendah dalam ajang Major. Namun, Ernie Els yang bermain bersama pegolf asal China pada putaran final ini memberi gambaran jelas.

”Memang bukan angka yang sama seperti Gracie, tapi jelas putaran yang bagus,” ujar Els. ”Anda bisa melihat, ia tidak menahan diri. Angin sangat berperan. Skor 63 pada putaran final adalah putaran yang mengagumkan. Jelas, Branden mencatatkan rekor. Yang ia lakukan waktu itu memecahkan setiap rekor yang tercatat. Tapi putaran final ini ialah putaran yang bagus. Angkanya berbeda, tapi kualitas golfnya sama.”

Tujuh hari setelah aksi heroik Li, Dou yang berkacamata menorehkan sejarah lainnya dengan menjadi pegolf China daratan pertama yang meraih kartu PGA TOUR melalui Web.com Tour. Dou yang berasal dari Henan, menembus 25 besar pada daftar peraih hadiah uang Web.com setelah meraih kemenangan pertama di AS pada Digital Ally Open ketika ia main 15-under dalam dua putaran final.

”Sungguh kehormatan besar bisa mewakili China dan bermain di Amerika Serikat,” ujar Dou. ”Bermain dan belajar dari yang terbaik, bersaing dan mendapatkan kartu TOUR, sekarang terasa sungguh luar biasa.”

Seperti halnya Li, Dou memulai karier profesionalnya pada PGA TOUR China Series. Tahun lalu, ia menang empat kali untuk menjuarai Order of Merit yang memberinya hak bermain pada Web.Com Tour. Ia yakin permainannya telah meningkat dan menyebut PGA TOUR China Series yang membentuk dirinya pada awal kariernya.

”(Tour) itu adalah segalanya,” ujar Dou. ”Sebagai pemain amatir, saya mengikuti beberapa ajang PGA TOUR China hanya untuk menumbuhkan kepercayaan diri dan melatih kemampuan saya sembari belajar. Hal itu terbukti menjadi sangat bermanfaat. Kami banyak berbicara kepada media China tahun ini tentang potensi pemain China yang menembus PGA TOUR. ’Secepat apa mereka mendapatkan kartu PGA TOUR?’ … Saya baru mendapatkannya!”

 

* Chuah Choo Chiang mulai menjabat sebagai Senior Director Communications PGA TOUR dan berkantor di TPC Kuala Lumpur mulai Agustus 2017. Sempat bertugas sebagai jurnalis olahraga pada dua surat kabar terkemuka di Malaysia selama 10 tahun dan menjabat sebagai Deputy Sports Editor pada Sun Newspaper sebelum bergabung dengan Asian Tour pada tahun 2000 dan terakhir bertugas sebagai Director of Communications di sana.

Share.

Leave A Reply