Justin Thomas di Antara Kaum Elite

0

Oleh Jim McCabe*

Sangat hebat, sangat cepat. Tapi jangan harapkan Justin Thomas bakal bergeser dan menempatkan dirinya dalam atmosfer yang sama dengan para pegolf, seperti Tiger Woods atau Steve Stricker, meskipun ia berpotensi bergabung dengan mereka, setidaknya di buku rekor.

Pegolf berusia 24 tahun ini akan terbang mengelilingi separuh bumi untuk bermain pada CIMB Classic 2017 dan upaya mengejar nama-nama tersebut bukanlah sesuatu yang ia cemaskan. Pun ketika TPC Kuala Lumpur menjadi tempat pemberhentiannya. Hasrat yang Thomas miliki bagi Malaysia dan CIMB Classic masih tetap kuat sebagaimana pada musim gugur tahun 2015 lalu, kala ia mencatatkan kemenangan PGA Tour pertamanya.

Atau malah sama kuatnya seperti tahun lalu ketika ia dengan sukses berhasil mempertahankan gelarnya.

Dua perjalanan ke CIMB, dua kemenangan. Delapan putaran, 144 hole, 49-under, 59 birdie, 2 eagle. Sebaiknya Anda memandangnya sebagai penggemar ajang ini.

”Mengagumkan. Bisa meraih dua kemenangan berturut-turut di sana membuat menempatkan prestasi itu di jajaran atas pencapaian saya,” ujar Thomas.

Melihat kembali tahun 2016 ketika Thomas, masih hijau, berbakat, tapi bintang muda yang tengah melambung namanya ini memiliki skenario comeback yang dramatis. Sempat terlempar dari posisi puncak lantaran approach-nya di hole 14 par 4 masuk air dan mendapat double bogey, Thomas menunjukkan permainan luar biasa: ia mendapat birdie di tiga hole berikutnya untuk mengalahkan Adam Scott dengan satu stroke.

”Saya masih sulit mempercayai hal tersebut,” ujar Thomas setelah kemenangan perdananya tersebut.

Tapi lihatlah sekarang. Dua tahun kemudian, bahkan bayangan upayanya untuk bangkit kembali pada saat itu masih melekat dalam benaknya.

”Ya, kemenangan itu akan selalu menjadi kemenangan istimewa dan mengingat cara saya melakukannya membuatnya lebih spesial lagi,” ujarnya di tengah rehat dari jadwal turnamen pada playoff FedEx Cup di AS. Thomas melanjutkan, tiap kali kini ia bersaing untuk menjadi juara dalam tiap turnamen—seperti pada Tournament of Champions dan Sony open di Hawaii, dan PGA Championship—”Saya akan mengingat kembali CIMB 2015 dan mengambil kekuatan dari momen tersebut.”

Ada banyak hal yang terjadi pada pekan CIMB Classic tersebut. Terutama pada putaran final yang berat. ”Sampai saya merasa sudah sanggup, dan akan sanggup, memanfaatkan putaran tersebut buat diri saya.”

Jika kemenangannya pada 2015 melibatkan skor 61 pada hari kedua dan 67-66 pada akhir pekan, pada tahun 2016 Thomas mengawali dan menuntaskan turnamen dengan skor 64, disertai skor 66-71 untuk menang tiga stroke dari Hideki Matsuyama. Sungguh kompetisi yang bagus.

”Momen tersebut merupakan salah satu yang sulit dijelaskan,” ujar Thomas, yang tumbuh besar di Kentucky, bermain pada Universitas Alabama. Thomas tak menawarkan penjelasan rasional pada permainannya yang nyaris tanpa tandingan di TPC Kuala Lumpur itu. Tapi ketika dipaksa, ia akhirnya menyebut jenis rumput dan fakta bahwa ia bisa memanfaatkan sejumlah driving hole di sana.

”Hal terbesarnya saya kira ialah ada banyak permainan wedge dan saya merasa saya punya permainan wedge yang amat sangat bagus,” ujarnya. ”Green-nya tak membuat bola banyak ber-spin, jadi bola langsung berhenti begitu mendarat.”

Selain menjadi mesin scoring di TPC Kuala Lumpur dan menampilkan performa cemerlang—dalam 23 hole terakhir ia main tanpa bogey dengan 13-under pada 2016—ia juga menunjukkan dominasi yang meyakinkan di hole-hole terakhir. Dalam delapan putaran, Thomas sudah membukukan 21-under di hole 13-18 dan jelas ini menjadi cetak biru bagi kemenangan di mana saja.

Jika ia bisa meraih kemenangan ketiga berturut-turut pada CIMB Classic 2017 nanti, Thomas jelas tahu ia bakal bergabung dengan jajaran elite. Ia bakal menjadi pegolf pertama sejak Steve Stricker pada 2009-20011 yang menjuarai turnamen yang sama (John Deere Classic) setidaknya tiga kali berturut-turut.

Thomas mengaku merasa bangga hanya dengan disebut bisa berada sejajar dengan Stricker, pegolf yang ia idolakan. Tapi saat menambahkan faktor Woods yang mengubah kebiasaan meraih sejumlah kemenangan beruntun pada turnamen yang sama (empat kali berturut-turut pada ajang Farmers Insurance open dan Arnold Palmer Invitational; tiga kali berturut-turut pada Memorial Tournament dan di Doral Resort), mungkin terasa berlebihan. Thomas menganggap Woods sebagai pemain terbesar yang pernah ada. Itu pula sebabnya, ia merasa sangat tersanjung bisa bersantap malam dengan mantan pegolf nomor satu dunia itu beberapa waktu lalu.

Tidak, tentunya tidak perlu ditanyakan bagaimana ia bisa menjuarai turnamen yang sama dari waktu ke waktu. Sebab, ”mungkin tak ada cara sama sekali untuk menjelaskannya,” ujar Thomas. ”Pencapaian itu merupakan sesuatu yang bisa Anda nikmati dan banggakan.”

 

*Jim McCabe merupakan penulis golf senior yang telah beberapa kali memenangkan penghargaan dari Golf Writers Association of America. Dengan pengalaman menulis lebih dari 30 tahun, McCabe mengawali kariernya pada Boston Globe Media. Ia juga menempuh perjalanan untuk meliput 20-25 turnamen PGA TOUR dalam setahun, baik untuk majalah maupun website Golf Week. Kini bekerja sebagai penulis lepas.

Share.

Leave A Reply