Juara Baru Indonesian Golf Tour

0

Joshua Andrew Wirawan akhirnya berhasil menjadi juara baru Indonesian Golf Tour (IGT). Pegolf berusia 20 tahun ini akhirnya menggenapi harapannya untuk bisa mengangkat trofi juara setelah dua tahun menjalani karier profesional dengan mencatatkan skor 7-under 209.

Play-off lima hole dengan Ian Andrew yang ia lakoni pada tahun 2015 silam akan selalu dikenang sebagai partai terbaik IGT sejauh ini. Dan saat itu ia sudah meyakini bahwa saatnya akan tiba. Dan hari ini (3/8) merupakan hari yang dinantikan itu.

Performa brilian pegolf asal Surabaya yang akrab disapa Andrew ini mulai terlihat ketika mencatatkan skor terendah sepanjang Seri ke-6 yang dimainkan di Palm Hill Golf Club dengan 6-under 66 pada putaran kedua. Permainannya tersebut melambungkannya ke tangga persaingan dengan Danny Masrin.

Danny sendiri berstatus sebagai juara bertahan dan tengah bangkit setelah performa beberapa kali mendapatkan performa mengecewakan pada ajang Asian Development Tour. Peluangnya untuk mempertahankan gelar juga sangat terbuka, mengingat ia berada dalam posisi memimpin.

Namun, bermain sesuai game plan saja terkadang tidak pernah cukup untuk bisa merebut gelar atau mempertahankan gelar. Sebagian mungkin menganggap sudah menjadi takdir IGT memiliki juara baru pada Seri ke-6 ini. Tapi yang jelas permainan istimewa dan kurang maksimalnya permainan peserta lain menjadi kontributor utama bagi seorang pemain untuk menjadi juara.

Andrew berhasil mencatatkan 2 birdie di hole 1 dan 3 untuk mengambil alih pimpinan klasemen setelah Danny justru mendapat bogey di hole tersebut. Andrew sempat mendapat bogey di hole 8, namun lekas memperbaiki permainannya di hole 9. Sementara itu, Danny mencatatkan dua birdie untuk bermain even par di sembilan hole pertamanya.

Meskipun sembilan hole pertama belum menjadi penentu, fase tersebut terbukti menjadi bekal yang penting untuk memantapkan posisi pada sembilan hole berikutnya. Dan tiga hole pertama di fase kedua putaran final ini terbukti menjadi penghalang bagi Danny untuk kembali menjadi juara. Mendapat bogey di hole 10, birdie di hole 11 seakan tidak berarti lantaran double bogey yang ia dapatkan di hole berikutnya, meskipun kemudian ia mendapat tiga birdie berturut-turut di hole 13-15.

Memasuki hole terakhir, Andrew yang hanya berhasil menambah satu birdie di hole 15—setelah bogey di hole 12—menjaga keunggulan satu stroke dari Danny. Sadar bahwa peluang terakhir ada di hole pamungkas, Danny memutuskan bermain agresif.

”Biasanya saya tidak memakai driver (di hole 18), tapi saya melihat Andrew memakai driver, sedangkan saya tertinggal satu stroke di belakangnya. Makanya saya pikir saya harus pakai driver,” ujar Danny.

Tee off Andrew mencapai fairway, sementara Danny mampir di rough. Meski demikian, persaingan semakin ketat tatkala tak satu pun pukulan kedua masing-masing pemain mencapai green. Danny yang baru pekan ini memainkan set iron barunya ternyata masih belum maksimal mengenali jarak pukulnya. Memainkan wedge 50°, pukulannya malah mengantar bola ke belakang green. Adapun pukulan kedua Andrew justru masuk ke bunker di sisi kiri green.  Baik Andrew maupun Danny akhirnya membutuhkan dua pukulan untuk menutup hole terakhir itu dengan par.

”Saya tidak terlalu banyak berpikir, lebih ke pasrah, lebih menyerahkan (semuanya) kepada Tuhan. Dan saya memang mengawali dengan birdie-par-birdie, sementara Danny dengan bogey-par-bogey. Jadi, tidak ada tekanan sampai di hole 12 dia kena OB dan mendapat tiga birdie berturut-turut. Mulai di hole 16, 17, dan 18 mulai terasa tekanan, tapi (saya) tetap fokus pada tiap pukulan saya, tidak memikirkan bagaimana kondisi lainnya,” tutur Andrew.

Sepanjang pekan ini, Andrew mengaku sangat percaya diri dengan pukulannya. Dampaknya terlihat dari statistik green in regulation-nya.

”Hari pertama 15 GIR, hari kedua 16, hari ini saja yang 12. Tapi saya memang sudah merasa agak percaya diri. Di lapangan ini, kalau pukulan kedua bisa mencapai green, putting tidak akan terlalu susah. Lain halnya dengan chipping,” sambungnya lagi.

Dengan kemenangan ini, Andrew tak hanya membawa hadiah uang sebesar Rp34 juta, tapi juga mendapat modal yang sangat berharga menjelang petualangannya di Filipina dalam dua pekan ke depan.

”Kemenangan ini seperti confidence booster,” katanya. ”Mungkin next time bisa lebih confident lagi kalau mewalan pemain seperti Danny atau Ian yang sudah sering menang.”

Meski gagal mempertahankan gelar, Danny mengaku mendapat banyak hal positif dari permainannya pekan ini.

”Awal tahun ini permainan saya memang kurang bagus. Ada banyak missed-cut, lalu ada juga cedera pada bulan Maret. Jadi, untuk bisa kembali bertanding dan bisa main under-par selama tiga hari benar-benar memberi percaya diri buat saya,” papar Danny yang harus puas menjadi runner-up.

Juara dua IGT berturut-turut sebelumnya, George Gandranata berusaha mengejar Andrew dan Danny. Hari ini permainannya jauh lebih baik ketimbang dua putaran awal setelah bermain tanpa bogey dan mencatatkan 4 birdie.

”Ini merupakan permainan terbaik saya di sini. Memang dua putaran pertama sangat disayangkan,” tutur George. ”Tapi hari ini permainan saya jauh lebih baik. Pukulan saya lebih bagus, putting saya juga lebih bagus.”

George berbagi peringkat ketiga dengan Benita Yuniarto Kasiadi dengan total skor 5-under 211.

”Hari ini saya sebenarnya sudah melakukan (permainan) sesuai game plan, tapi saya melakukan satu kesalahan di par 3 hole 5. Di situ saya membuat double bogey. Kalau hal itu tidak terjadi, bisa jadi saya yang juara hari ini. Tapi inilah golf, kita tidak bisa memprediksi,” ujar Benita.

Dari kelas amatir, Naraajie Emerald Ramadhan Putra kembali menegaskan kapasitasnya sebagai salah satu pegolf amatir terbaik Indonesia saat ini. Grafik permainannya terus meningkat setelah pada hari pertama bermain 74. Setelah kemarin main 1-under 71, pada putaran final ia berhasil mencatatkan 2-under 69 dan finis di peringkat T5, berbagi posisi dengan empat pegolf profesional lainnya—Rinaldi Adiyandono, Ian Andrew, Suprapto, dan Elki Kow.

Share.

Leave A Reply