Jordan Spieth di Antara Para Legenda

0

The Masters merupakan turnamen impian dan memiliki eksklusivitas tinggi. Tapi The Open merupakan turnamen Major tertua yang selalu memberi tantangan berbeda tiap tahunnya. Lalu bagaimana setelah Jordan Spieth menjuarai The Open?

Performa Spieth yang luar biasa pada putaran final rasanya akan jadi salah satu putaran final yang dikenang, setelah duel sengit Phil Mickelson dan Henrik Stenson. Terutama di hole 13 ketika ia akhirnya memberi keunggulan untuk pertama kalinya kepada Matt Kuchar.

Lalu juga kisah bagaimana selama 12 hole pertama ia melepas keunggulan 3 stroke dan memberi kesempatan Matt Kuchar untuk memberi tekanan kepadanya—yang sebenarnya menciptakan suasana persaingan yang sangat menarik untuk ditonton.

Keberhasilan Jordan Spieth menjuarai The Open kini menempatkannya di antara para legenda pegolf dunia. The Open sekaligus menjadi Major ketiga yang ia raih, setelah sebelumnya menjuarai The Masters dan US Open dalam usia 23 tahun dan 11 bulan, dan 26 hari. Ini menempatkannya sebagai pegolf termuda kedua setelah Jack Nicklaus yang berhasil memenangkan tiga Major berbeda. Tiger Woods berhasil melakukannya pada usia 24 tahun, sementara Rory McIlroy melakukannya saat berusia 25 tahun.

Membandingkannya dengan Nicklaus dan Woods memang seakan menjadi hal yang sulit kita elakkan. Apalagi membayangkan seandainya ia bisa menjuarai US PGA Championship, Major terakhir tahun ini. Dan tentu saja ini bukan sesuatu yang mustahil. Tahun 2015 terbukti menjadi tahun terbaiknya ketika ia berhasil menjuarai The Masters dan US Open. Artinya, menjuarai dua Major dalam setahun bukan hal yang mustahil.

Namun, Spieth adalah Spieth. ”Saya tidak membandingkan diri saya (dengan Woods atau Nicklaus),” tuturnya. ”Dan perbandingan itu saya kira kurang pantas atau kurang perlu juga. Bisa berada di antara mereka saja sudah merupakan hal yang luar biasa. Dan saya sangat menghargai hal itu.”

Usianya baru 23 tahun. Tapi ia punya pandangan yang sangat matang ketika menegaskan, ”Saya amat berhati-hati terhadap apa artinya hal tersebut (berada di antara para pegolflegendaris) karena yang mereka lakukan telah mengubah olahraga ini. Dan saya tak berpikir telah melakukan pencapaian yang mendekati mereka. Kemenangan ini adalah awal yang bagus, tapi jalan saya masih panjang.”

Tapi kita tak bosan melihat sejumlah catatan fenomenal yang Spieth raih pada The Open yang lalu. Lima hole terakhir yang ia mainkan, ketika berhasil mendapat 3 birdie dan 1 eagle, merupakan lima hole terakhir terbaik yang dimainkan pada The Open Championship, jauh lebih baik dari 4-under yang dicatatkan Henrik Stenson tahun lalu.

Selama empat putaran di Royal Birkdale itu, Spieth mencatatkan skor 65-69-65-69. Skornya tersebut menjadikannya sebagai pemain kelima yang menjuarai The Open dengan empat putaran bermain dengan skor 60-an. Pegolf pertama yang melakukan hal itu ialah legenda asal Australia Greg Norman pada 1983. Nick Price melakukannya pada 1994 dan Tiger Woods pada tahun 2000. Henrik Stenson juga melakukan hal tersebut saat menjuarai ajang ini tahun lalu.

Walau Spieth pantas mendapat sorotan utama sebagai Champion Golfer of the Year, sejumlah catatan lain juga tak patut diabaikan. Misalnya, 235.000 penonton yang menyaksikan langsung di Royal Birkdale merupakan sebuah rekor untuk penyelenggaraan The Open di luar St Andrews. Jumlah penonton tersebut sekaligus melampaui angka 230.000 di Royal Liverpool pada 2006, sekaligus menjadi The Open teramai yang pernah digelar di Inggris.

”Salah satu alasan utama mengapa The Open dianggap sebagai ajang olahraga kelas dunia ialah jumlah penontonnya yang mencapai ratusan ribu menciptakan atmosfer yang sangat special bagi para pemain dan jutaan penonton di seluruh dunia,” ujar Martin Slumbers, Chief Executive R&A.

The Open ke-147 tahun depan akan digelar di Carnoustie pada 15-22 Juli 2018. Para penggemar golf yang ingin menjadi saksi bersejarah berikutnya bisa mendaftarkan diri ke The One Club, keanggotaan unik bagi penggemar untuk mendapat akses eksklusif dan pengalaman berharga lainnya, termasuk akses prioritas untuk mendapat tiket menuju The Open 2018, 2019, dan 2020.

Share.

Leave A Reply