Jawara Dunia di Asia

0

Oleh Chuah Choo Chiang*

Petualangan tahunan PGA TOUR telah menyuguhkan tontonan luar biasa bagi para penggemar golf di Malaysia, Korea Selatan, dan China pada bulan Oktober 2017 yang spektakuler . Rangkaian turnamen yang berlangsung itu memberikan aksi yang begitu dekat bagi seluruh penggemar golf sejati, tapi juga bagi mereka yang baru mulai bermain golf.

Ketiga turnamen tersebut menghadirkan tiga jawara sejati, yang masing-masing memberikan kisah penuh inspirasi yang akan terus jadi bahan perbincangan di Asia hingga bertahun-tahun ke depan. Golf memang merupakan olahraga yang menghargai kerja keras, persiapan matang, perhatian yang ekstrem terhadap detail, dan semangat tak kenal menyerah. Dan tiap atribut tersebut sangat identik dengan para juara dari ketiga ajang yang berlangsung bulan Oktober lalu.

Memasuki penyelenggaraan kedelapan di TPC Kuala Lumpur, CIMB Classic dianggap sebagai medan persaingan dua pemain muda, dengan dua kali juara bertahan dan juara FedExCup, Justin Thomas, 24 tahun, bersaing untuk ajang dengan hadiah sebesar US$7 juta di Malaysia, bersama bintang asal Jepang Hideki Matsuyama, 25 tahun.

Kedua bintang muda ini merupakan lambang pegolf generasi masa kini yang saat ini mendominasi golf, sekaligus menghadirkan era yang menarik pasca-Tiger. Thomas dan Matsuyama punya postur yang ramping, punya kapasitas, dan tak kenal rasa takut. Keduanya tiba di Malaysia sebagai favorit dengan kombinasi 11 kemenangan dalam rentang 12 bulan.

Publik berharap banyak terhadap kedua pemain yang masing-masing berada di peringkat lima besar dunia itu. Tapi pada akhir pekan yang menarik itu, justru veteran berusia 41 tahunlah yang tertawa belakangan dengan kemenangannya yang meyakinkan.

Pat Perez adalah pemain yang blak-blakan, luwes, menolak kebugaran atau diet, dan meyakini hidup harus sepenuhnya dinikmati. Ia mengenakan sepatu golf high-top dan membiarkan rambutnya gondrong dan tergerai sehingga mengingatkan kita pada bintang rock era 1980-an.

”Saya takkan mengubah apapun,” ujar Perez setelah memastikan kemenangan empat stroke setelah terus memimpin sepanjang pekan di Malaysia. ”Saya masih tidak bakal melatih kebugaran. Diet saya juga masih buruk dan saya akan terus menikmati diri sendiri. Saya tidak ingin berpikir muluk, juga tak mau melihat ke belakang, saya bakal terus melakukan hal tersebut. Sejujurnya, saya kira sayalah orang terakhir yang diperkirakan bakal menjadi juara pekan ini. Saya bahkan tak mengira bakal menang.”

Persis 18 bulan sebelumnya, pegolf Amerika yang bersemangat dan tumbuh pada era yang sama dengan Tiger Woods ini sempat tenggelam lantaran cedera bahu. Ia sempat mengalami keraguan saat kembali ke lapangan sampai mendapat dorongan berkat undangan sponsor untuk tampil pada CIMB Classic 2016.

T33 pada saat itu terkesan tak relevan, tapi Perez masuk sepuluh besar dalam turnamen berikutnya, sebelum akhirnya mengangkat trofi OHL Classic di Mayakoba, Meksiko sebagai gelar PGA TOUR kedua baginya. Kemenangan ini melambungkan Perez untuk berada di peringkat 15 klasemen FedExCup pada musijm 2016-17, yang merupakan prestasi terbaiknya sejauh ini. Dan kemenangan CIMB Classic pada Oktober lalu menegaskan bahwa buah yang manis bakal dimiliki oleh mereka yang, seperti Perez, terus berjuang meskipun tengah terpuruk.

Seperti halnya Perez meraih pujian di Malaysia, Thomas menuju CJ CUP dalam kondisi kehabisan bahan bakar untuk mengikuti turnamen terakhirnya tahun 2017 ini. Skor pembuka 63 seolah menjadi pemicu semangat yang ia butuhkan di turnamen yang dimainkan di Jeju, Hawaii-nya Korea, ini. Tapi angin yang berembus sepanjang tiga putaran akhir pada ajang PGA TOUR pertama di Korea tersebut menyuguhkan pertarungan keras.

Sepenuhnya bermain dengan adrenalinnya, Thomas yang merupakan juara FedExCup 2017 dan PGA TOUR Player of the Year ini membuka jalan kemenangan melalui playoff dengan pegolf Australia Marc Leishman dengan birdie di hole terakhir dalam 72 hole. Ia kemudian mendapat birdie pelepas stres, yang sekaligus memberikan gelar PGA TOUR ketujuh dalam kariernya.

”Sungguh kehormatan yang luar bisa bisa menjuarai CJ CUP pertama ini. Ini cara terbaik untuk menutup tahun ini. Saya sudah tak sabar untuk tak melakukan apapun untuk sementara waktu,” kata Thomas.

Thomas pun mengangkat trofi yang menampilkan nama tiap pemain dalam bahasa Korea. Sebagai juara turnamen, namanya ditorehkan dengan warna emas. ”Trofi ini benar-benar keren. Sangat unik. Saya senang nama saya diberi warna emas, jadi saya tahu di mana letaknya,” ujarnya sambil tersenyum.

Rangkaian tur Asia ini berakhir di Shanghai dengan pegolf nomor satu dunia Dustin Johnson berniat menjadi pemain pertama yang memenangkan tiga gelar World Golf Championships pada kalender tahun yang sama.

Setelah tiga putaran 68-63-68 yang menakjubkan, pemukul jauh asal Amerika itu memimpin enam stroke saat memasuki putaran final WGC-HSBC Champions. Namun, Johnson justru tersingkir pada hari Minggu itu lantaran bermain dengan skor 77 dan mesti melupakan menorehkan sejarah.

Justru pegolf asal Inggris, Justin Rose, yang menangkap peluang turunnya performa Johnson tersebut. Rose bermain 67 dengan lima birdie di sembilan hole terakhirnya untuk memastikan kemenangan dengan selisih dua stroke dari Brooks Koepka, Henrik Stenson, dan Johnson. Performanya ini menyamai tiga kemenangan comeback terbaik dalam sejarah PGA TOUR lantaran Rose memulai putaran final dengan berada delapan stroke di belakang pimpinan klasemen.

”Pada awal putaran (final), saya bermain dengan menargetkan finis di tempat kedua,” aku Rose, pemenang medali emas pada Olimpiade 2016.

”Jelas ini hari yang sama sekali tak terduga. Ini hari yang Anda harapkan, impikan, tapi butuh kerja keras agar bisa mewujudkan hari ketika bisa mengatasi ketertinggalan delapan stroke, terutama menghadapi pemain seperti DJ (Dustin Johnson). Kapan pun Anda mengalahkan pemain top dunia, kemenangan ini menjadi lebih bermakna, dan jelas dengan jajaran atas yang dipenuhi nama-nama seperti Dustin, Brooks, Stenson, saya merasa bangga bisa memenangkan turnamen ini.”

 

* Chuah Choo Chiang mulai menjabat sebagai Senior Director Communications PGA TOUR dan berkantor di TPC Kuala Lumpur mulai Agustus 2017. Sempat bertugas sebagai jurnalis olahraga pada dua surat kabar terkemuka di Malaysia selama 10 tahun dan menjabat sebagai Deputy Sports Editor pada Sun Newspaper sebelum bergabung dengan Asian Tour pada tahun 2000 dan terakhir bertugas sebagai Director of Communications di sana.

Share.

Leave A Reply