Duka dan Suka Tim Jepang

0

Senyuman senantiasa terpancar di wajahnya. Ketika namanya disebutkan untuk melakukan tee off pada hari penentuan itu, ia membalas sambutan para penonton dan ofisial yang mendampingi, sebelum kemudian menghajar bola ke tengah fairway.

Ayaka Furue menjadi tumpuan Jepang untuk mengejar medali untuk golf wanita. Turun sebagai pegolf berperingkat terbaik di timnya—Furue berperingkat 83 pada World Amateur Golf Ranking pada pekan penyelenggaraan cabang olahraga golf—ia memang berjarak enam stroke dari pegolf China Liu Wenbo dengan skor total 5-under 211. Namun, natur olahraga ini membuat segalanya masih sangat terbuka, minimal untuk menorehkan medali perunggu.

Furue membuktikannya dengan mengemas tujuh birdie dengan tiga bogey pada hari itu. Memang skor total 9-under 279 tidaklah cukup untuk merebut medali perak, apalagi emas—yang akhirnya diraih, masing-masing, oleh pegolf China Liu Wenbo dan pegolf Filipina Yuka Saso. Tapi skor tersebut membawanya ke babak play-off menghadapi Bianca Pagdanganan, wakil Filipina lainnya, untuk perebutan medali perunggu.

Aura positif masih terpancar, senyum masih ditebar, peluang tampak terbuka. Kedua pegolf muda ini sama-sama mencapai green dalam dua pukulan. Ketika Bianca berhasil memasukkan birdie, rekan-rekan yang mendampinginya berharap Ayaka dapat mengimbangi dengan birdie.

Sayangnya, harapan tersebut pupus. Tangis kekecewaan pun pecah. Dunia seolah berlaku tak adil kepada pemain yang telah mencerahkan suasana di lapangan. Namun golf memang lebih berkenan kepada mereka yang mencatatkan skor lebih baik. Dan sekali lagi, Jepang harus menerima kenyataan bahwa tim wanita mereka harus menyudahi Asian Games tanpa membawa pulang medali.

Dua rekan Ayaka lainnya, Riri Sadoyama dan Sae Ogura juga belum menorehkan hasil yang bisa membawa mereka bersaing. Sadoyama mencatatkan skor total 4-over 292 untuk finis di posisi T17, sedangkan Ogura bermain 6-over 294 dan berada di peringkat T20.

Sekali lagi, mereka belum mengulangi pencapaian pada 2002, ketika tim wanita Jepang mempersembahkan medali emas dari nomor individu dan medali perak dari nomor beregu.

”Saya merasa sangat kecewa. Saya sangat ingin memenangkan medali itu,” ujar Furue.

Ia patut merasa kecewa lantaran di partai play-off yang dimainkan di hole 1 par 4 itu, ia bermain justru lebih bagus ketimbang saat ia memainkannya dalam putaran reguler—ia memulai putaran final itu dengan bogey di hole tersebut.

”Saya sadar kalau saya belum memiliki kemampuan yang cukup memadai pada Asian Games kali ini,” timpal Sadoyama yang mencatatkan skor 78 pada hari terakhir.

Sementara itu, frustrasi juga diungkapkan oleh Ogura. Pegolf termuda dalam tim ini, 17 tahun, sama sekali tak mendapatkan birdie pada hari terakhir.

”Saya menyesal tidak mendapat hasil maksimal kali ini,” aku Ogura yang mengalami tenosynovitis di tangan kirinya.

Meskipun harus menuai kekecewaan yang dalam, ketiga remaja ini mendapati bahwa panggung Asian Games ini menjadi fase penting perjalanan karier golf mereka. Bagi Furue, fakta bahwa ia menorehkan total 21 birdie selama empat putaran di Pondok Indah Golf Course itu—dengan sukses mendapat birdie selama empat hari berturut-turut di hole 7—menjadi  hal yang positif.

”Bisa mendapat birdie sebanyak itu di Asian Games jelas merupakan pengalaman yang bagus buat saya,” ujar Furue.

”Swing saya semakin bagus kali ini, jadi saya akan terus berlatih,” timpal Sadoyama.

Sementara Ogura menyikapi dengan sedikit berbeda. ”Tangan kiri saya mengalami tenosynovitis, jadi saya tidak bisa berlatih terlalu keras. Saya akan berusaha mendapatkan swing baru untuk menghadapi Japan Open nanti,” ujarnya.

Tidak ada yang ingin kalah. Tapi dalam kompetisi seperti ini, kita harus menerima fakta bahwa mereka yang terbaiklah yang berhak membawa pulang medali. Kegagalan seperti ini juga tidak bisa membuat para atlet itu layak dipersalahkan. Mereka pada akhirnya adalah wakil negaranya yang patut dianggap aset berharga bangsa.

Begitu pula dengan trio Furue-Sadoyama-Ogura. Keringat dan air mata telah tercurah untuk negaranya. Medali boleh melayang, tapi masa depan mereka masih membentang.

”Tim wanita kami sudah menunjukkan upaya terbaik mereka dan berjuang sampai akhir. Dan itu terbukti dari betapa nyarisnya mereka mendapat medali,” puji Gareth Jones yang berperan dalam menyiapkan mental tim dan game plan pekan itu. ”Saya memang tidak banyak mengutak-atik aspek teknik karena teknik permainan mereka sudah siap untuk berlaga pada Asian Games ini.”

Kegagalan seperti ini tidak bisa membuat para atlet itu layak dipersalahkan. Mereka pada akhirnya adalah wakil negaranya yang patut dianggap aset berharga bangsa.

Tangis Kesedihan Berganti Tangis Kebahagiaan
Tak sampai dua jam kemudian, kekecewaan itu berubah menjadi kebahagiaan. Tim pria Jepang sukses meraih medali emas untuk dua nomor yang sebelumnya selalu menjadi milik mereka: nomor individu dan beregu.

Bintang pada sore itu adalah pegolf berusia 18 tahun, Keita Nakajima. Pegolf termuda dalam tim ini berhasil memastikan kemenangannya dengan mengagumkan. Ia menunjukkan kualitas bintang untuk meraih kemenangan. Permainannya di hole terakhir menunjukkan kematangan bak pemain veteran.

Ketika tee off-nya masuk ke semak-semak di sisi kanan fairway, para penonton mulai membayangkan tragedi yang dialami pegolf wanita China, Liu Wenbo. Liu yang masih memimpin tiga stroke dari pemain Filipina Yuka Saso akhirnya harus puas dengan medali perak lantaran di hole 18 itu ia bermain dengan 9 stroke lantaran dua kali mengambil penalti.

Nakajima dengan brilian mengembalikan bola ke fairway sebelum mengantarkannya ke depan green. Pemain Korea Oh Seungtaek memang sempat memberinya tekanan dengan mencatatkan birdie. Namun, Nakajima sama sekali tak melakukan kesalahan untuk memastikan meraih medali emas. Par di hole tersebut sudah cukup untuk mengungguli Oh dengan satu stroke.

”Saya sangat gembira bisa mendapatkan medali emas untuk kompetisi beregu, melebihi emas individu,” tutur Nakajima.

Komentar Nakajima ini seakan menunjukkan betapa golf di kancah pesta olahraga empat tahunan ini lebih menjadi olahraga beregu ketimbang olahraga individual, yang pada dasarnya merupakan karakter dari golf.

Meski tidak melakukan ledakan emosional, seperti yang dilakukan Yuka Saso untuk individu wanita, ekspresinya di hole 18 itu menunjukkan betapa ia merasa puas bisa menuntasan misi peka itu. Tapi nada dalam komentarnya itu juga menunjukkan betapa rekan-rekan senegaranya memberikan fondasi penopang yang luar biasa. Dan ia tidak segan mengekspresikan hal itu ketika mengungkapkan, ”Saya sangat menghargai para senior saya. Mereka sangat baik dan sangat membantu saya untuk melakukan pencapaian ini.”

Kemenangan Nakajima ini diikuti pula oleh kepastian Tim Jepang meraih medali emas beregu pria. Kombinasi Nakajima, Ren Yonezawa, Daiki Imano, dan Takumi Kanaya membuahkan total  28-under 836, tujuh stroke lebih baik daripada Tim China.

Kapten Tim Jepang Daiki Imano mengungkapkan kebanggaannya atas keberhasilan tim mereka, meskipun ia sendiri tak bermain sebaik yang ia harapkan.

”Ini pencapaian yang luar biasa! Kami berhasil mengalahkan Korea, China, dan berhasill meraih kembali medali emas sejak terakhir melakukannya pada lima Asian Games lalu. Kami sudah menunggu hasil ini selama 20 tahun!” ungkapnya. Imano sendiri  menyudahi kampanye ini dengan cukup baik, finis di peringkat T8 dengan 4-under 284.

Sementara anggota tim yang lain,  Ren Yonezawa mengalami  kegugupan jelang putaran final. ”Saya terbangun pukul empat subuh gara-gara gugup. Beruntung saya bisa mendapat birdie di hole pertama,” ujarnya.

Adapun Takumi Kanaya, yang merupakan pegolf Jepang dengan peringkat amatir dunia terbaik pada pekan itu—peringkat 69 pada World Amateur Golf Ranking—turut merasa puas dengan medali emas beregu.

”Rasa percaya diri saya sempat hilang jelang Asian Games lantaran tak kunjung mendapatkan hasil yang saya harapkan. Tapi kali ini saya bisa main bagus. Jadi, saya senang mendapat medali emas,” ujar Kanaya, yang akhirnya finis di posisi T4 dengan 7-under 281.

Tim Jepang jelas berhasil menunjukkan kesatuan yang solid pekan itu. Tiap anggota tim memainkan peran yang sangat istimewa dengan masing-masing menjadi sistem penopang bagi yang lain. Dan ada pula peran seorang Suhara Hirokazu. Pelatih satu ini berfokus menjaga kondisi para pemain Jepang sehingga bisa bermain selama empat putaran.

”Saya menjalani tes urin bagi seluruh anggota tim. Kalau warnanya terlihat kuat, itu berarti mereka telah mengalami dehidrasi. Jadi, saya mencatat data-data seperti ini tiap hari untuk memastikan mereka mengonsumsi air dengan baik,” ujar Hirokazu.

Asian Games jelas menjadi panggung lahirnya banyak bintang golf baru. Dari generasi Sigeki Maruyama, yang meraih medali emas individu dan beregu pada Asian Games 1994, sampai generasi Tomohiro Kondo, Hideto Tanihara, dan Yusaku Miyazato yang bahu-membahu  untuk emas individu dan beregu 1998, kini kita melihat masa depan cerah dari Negeri Matahari Terbit ini.

Share.

Leave A Reply