Debut Positif Harding di Panggung Asian Tour

0

Pegolf Afrika Selatan Justin Harding mengawali langkah positifnya bermain di panggung Asian Tour dengan menorehkan kemenangan pada ajang Bank BRI Indonesia Open. Hadir sebagai pemain undangan, ia melanjutkan tren positifnya tahun ini.

Harding memang pantas memenangkan perhelatan ke-37 ajang nasional terbuka Indonesia ini, mengingat statistik permainannya yang sungguh luar biasa. Dalam empat putaran pada 12-15 Juli 2018 kemarin, ia mencatatkan 65 dari 72 green in regulation, yang berarti 90% dari total green in regulation di Pondok Indah Golf Course, yang juga menempatkannya sebagai pemain paling akurat pada turnamen ini.

Kesuksesannya ini di satu sisi tidaklah mengejutkan, mengingat Harding tengah berada dalam kondisi terbaiknya. Pada bulan Mei lalu, ia berhasil menjuarai dua ajang Sunshine Tour di Afrika Selatan. Steelah menjuarai Investec Royal Swazi Open pada 12 Mei, ia kembali menorehkan prestasi serupa ketika memenangkan Lombard Insurance Classic sekitar sepekan kemudian, yang sekaligus merupakan gelar  Sunshine Tour ke-7 baginya sejak beralih profesional pada 2010.

Pimpinan Order of Merit Sunshine Tour ini memang harus berjuang istimewa pada putaran final. Terutama ketika Scott Vincent memberi tekanan yang berarti berkat tiga birdie berturut-turut dari hole 2. Namun, bogey di hole 6, 9, dan 10 membuatnya harus membayar mahal. Meskipun masih berpeluang memaksakan play-off, sampai akhirnya Harding membukukan bidie ketiganya pada putaran final itu, persis di hole terakhir.

”Sulit untuk terlalu kecewa dengan hasil ini. Saya mengawalinya dengan bagus dan memberikan tekanan kepada Harding. Tapi pada akhirnya, ia menyalip pada saat-saat yang penting. Kredit buat dia, tapi saya sendiri makin dekat dengan kemenangan,” tutur Vincent yang harus finis dengan catatan skor 17-under 271, satu stroke di belakang Harding.

Jelas hal sebailknya dirasakan oleh sang juara.

”Saya sangat gembira dengan kemenangan ini. Saya datang ke sini tanpa tahu mesti mengharapkan apa. Saya memang sudah main bagus sepanjang tahun ini,” tutur Harding. ”Saya suka lapangan ini dan setup-nya juga sangat sesuai buat saya. Anda tak bisa main terlalu agresif di sini. Pertahankan jarak pukul dan memaksimalkan putting di sana-sini. Saya sama sekali tak berharap menang.”

Sebuah kemenangan sering kali membuka pintu bagi banyak kesempatan. Itu pula yang didapatkan Harding. Dengan status keanggotaan penuh pada Asian Tour, ia pun berhak memainkan lebih banyak turnamen lagi di Asian Tour.

”Saya senang bisa menghindari Q-School. Saya tak sabar untuk bermain di Asian Tour, tapi saya harus melihat jadwal dan mencocokkan beberapa hal. Saya senang bisa berkesempatan bermain di sian Tour dan saya senang kesempatan ini bisa berhasil maksimal,” tutur Harding.

”Tentu saja saya ingin bisa kembali lagi ke Indonesia untuk mempertahankan gelar ini. Saya senang dengan masyarakat di sini. Terlepas dari fakta bahwa di sini sangat panas, semua orang sangat ramah kepada saya,” imbuhnya lagi.

Sementara itu, prestasi membanggakan kembali diraih oleh sejumlah pegolf Indonesia. Meskipun pada akhirnya harus mengakhiri turnamen ini dengan posisi yang beragam, beberapa di antaranya mencatatkan hasil yang positif.

Almay Rayhan Yaqutah kembali mengulangi keberhasilannya meraih Lowest Amateur, seperti pada edisi 2016 lalu. Kali ini ia mencatatkan prestasi tersebut dengan menorehkan total 3-under 285 dan finis di peringkat T47.

Meskipun catatan tersebut tidak lebih baik daripada tahun 2016, ia mengaku secara personal dirinya telah mengalami perkembangan yang lebih signifikan.

”Dua tahun lalu saya asal main saja sehingga kaget bisa main bagus. Tapi kali ini secara fisik saya sudah lebih kuat dan secara mental pun saya sudah lebih kuat,” tutur Almay yang menutup pekan lalu dengan sebuah chip-in.

Kedua rekannya dalam Tim Nasional Indonesia yang akan berlaga pada ajang Asian Games, mencatatkan hasil yang sama, 1-under 287, dan harus puas dengan finis di peringkat T50.

Sementara itu, dua pegolf profesional Indonesia yang berhasil lolos cut, Jordan Surya Irawan dan George Gandranata juga menorehkan hasil yang berbeda. Jordan finis dengan skor total even par 288 dan berada di peringkat T59. Adapun George Gandranata finis di posisi T73 dengan perolehan 2-over 290.

Share.

Leave A Reply