Bekal Menuju Asia-Pacific Amateur Championship

0

Salah satu agenda yang jelas penting bagi golf amatir di Indonesia ialah Kejuaraan Nasional Golf Amatir yang dilangsungkan pada 18-21 September 2018 lalu. Cerita menarik pun tercipta ketika untuk ketiga kalinya turnamen ini digelar kembali di Gading Raya Padang Golf dan Klub dalam lima tahun terakhir. Almay Rayhan Yaqutah sukses meraih kemenangan di kelompok Pria, kemenangan yang menjadi bekal menuju Asia-Pacific Amateur Championship awal Oktober mendatang.

Masih segar sebagai bagian dari Tim Nasional ketika berlaga pada ajang Asian Games XVIII, Almay sukses menyandang status sebagai Juara Nasional setelah membukukan skor total 5-under 283.  Kemenangan ini menjadi kemenangan kedua baginya dalam rentang waktu empat tahun.

Almay menunjukkan dirinya pantas menjadi unggulan ketika sukses meraih tampuk pimpinan pada akhir putaran kedua. Usai membuka dengan bermain 2-under 70 pada putaran pertama, skor 1-under 71 pada hari kedua sudah cukup untuk menggeser pegolf asal Jawa Barat, Akmin. Hal itu seakan menjadi pertanda bahwa pegolf berusia 20 tahun ini akan tetap berada di puncak klasemen hingga putaran final berakhir.

Memasuki putaran ketiga, permainan Almay menjadi lebih bagus lagi. Ia sukses membukukan lima birdie dan dua bogey, sekaligus mengukuhkan posisinya. Pesaing terdekatnya hanyalah Gabriel Hansel Hari yang hingga putaran ketiga menorehkan skor 2-under 214 setelah bermain 72-72-70.

Meski secara matematis masih memungkinkan untuk memberi kejutan, dalam beberapa tahun terakhir ini, belum pernah ada kejutan di mana peringkat kedua berhasil menyalip pemain teratas secara fenomenal. Dan tradisi ini ternyata masih terjaga pada tahun ini.

Almay memang sempat menempatkan dirinya dalam posisi yang terancam ketika bermain 2-over dalam sembilan hole pertamanya. Keunggulan empat stroke dari Hansel terpangkas menjadi hanya dua stroke lantaran Hansel justru bermain even par di sembilan hole pertama.

Sebuah turnamen memang sering ditentukan dari bagaimana pemain yang berpeluang juara memanfaatkan peluangnya. Hansel memang berpeluang untuk mengubah tradisi juara untuk menyalip posisi Almay, namun ia justru gagal memanfaatkannya lantaran hanya mencatatkan dua birdie di sembilan hole terakhirnya, justru ketika Almay bermain tidak sebaik tiga putaran pertamanya, dan membukukan skor over pertamanya pekan itu.

”Speed putting saya memang sedang jelek,” jelas Almay menyinggung tiga bogey dan hanya dua birdie pada putaran final itu. ”Pada putaran final, saya justru dua kali melakukan tiga putt.”

Meski demikian, toh pegolf asal Jawa Timur ini masih bisa mencatatkan birdie di hole terakhir, yang sekaligus memberinya gelar nasional kedua setelah 2015 silam.

 

 

”Saya percaya kalau saya berada di level yang sama dengan Naraajie (Emerald Ramadhan Putra), Jonathan (Wijono), dan Kevin (Caesario Akbar).” — Almay Rayhan Yaqutah

 

 

”Pada hari pertama hingga hari ketiga, saya terbilang berhasil memainkan permainan saya. Tapi memang sepanjang pekan itu saya memang harus melakukan sejumlah penyesuaian,” tutur Almay. ”Pada hari pertama, long game saya jelek, jadi saya harus berimprovisasi. Pada hari terakhir, long game saya bagus, tapi putting saya malah sebaliknya.”

Kemampuan untuk menyesuaikan permainan tampaknya menjadi bagian dari kesuksesannya kali ini. Dalam kondisi gugup memainkan hole terakhir, Almay memilih bermain aman dan memilih untuk lay-up di jarak yang nyaman baginya. Keputusan ini terbukti jitu, lantaran ia berhasil mencatatkan birdie di hole terakhir itu dan menghindari play-off.

Sekadar beruntung, atau memang memiliki kemampuan mumpuni? Publik golf di Indonesia berhak memberi penilaiannya masing-masing. Tapi keberuntungan memang selalu menjadi bagian dari permainan golf. Dan kali ini kemenangan adalah bagian yang bisa dinikmati oleh Almay.

”Ada gengsi tersendiri bisa memenangkan Kejurnas kali ini,” ungkap Almay mengenai motivasinya untuk tampil prima selama empat putaran di Gading Raya Padang Golf dan Klub ini. ”Hanya dua pemain Timnas yang turun kali ini (Almay ditemani oleh M. Rifqi Alam Ramadhan), jadi saya tidak ingin kalah dari junior-junior saya.”

Baginya, kemenangan adalah bagian dari rezeki pemain. Terlepas dari absennya Naraajie Emerald Ramadhan Putra, Jonathan Wijono, dan Kevin Caesario Akbar yang kerap menjadi pesaing kuat, Almay menilai bahwa dirinya tidak kalah kelas ketimbang ketiga rekannya itu.

”Saya percaya kalau saya berada di level yang sama dengan mereka. Saya hanya berpikir, kalau kalah (dari mereka), itu bukan rezeki saya saja,” imbuhnya.

Kemenangan ini memberi dua hal baginya. Pertama, kemenangan, di mana dan kapan pun itu, pasti meningkatkan kepercayaan diri. Tapi di satu sisi ia juga memiliki PR jelang turun berlaga di Sentosa Golf Club, Singapura awal Oktober nanti.

”Saya mesti mempertajam approach dengan wedge di jarak 100 meter. Selain itu, saya harus berlatih melakuan putting dari jarak jauh. Kabarnya green di Sentosa besar-besar, jadi saya juga harus melatih speed agar lebih baik di green nantinya,” tandasnya.

Rasanya belum terlalu lama melihatnya menjadi atlet yang ”terbuang” dari pentas golf nasional. Tapi kini Almay telah menjadi pemain yang komplit dan menjawab keraguan banyak pihak. Perlahan tapi pasti, beberapa targetnya tercapai. Kita nantikan saja bagaimana aksi Sang Juara Nasional ini pada panggung Asia-Pacific Amateur Championship. Siapa tahu keberuntungannya kelak membawanya menuju ajang Major?

Share.

Leave A Reply