Andik Mauludin Berpulang

0

Duka mendalam dialami oleh segenap insan golf di Indonesia mengiringi kabar berpulangnya salah satu putra terbaik bangsa, Andik Mauludin pada akhir pekan (3/2) lalu di Parung, Bogor, Jawa Barat. Almarhum berpulang dalam usia 37 tahun dengan meninggalkan seorang istri dan putrinya yang baru berusia 3 bulan.

Almarhum dikabarkan mengeluh sakit kepala pada Sabtu sore hari tersebut. Sebelumnya, ia sempat melakoni aktivitas golfnya, bahkan sempat mengajar. Namun, seusai dikerokin, almarhum pingsan dan dinyatakan meninggal dunia pada pukul 22:00 WIB dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Andik merupakan salah satu pegolf terbaik Indonesia yang belajar mengayunkan club secara otodidak. Kariernya dihiasi dengan sejumlah prestasi membanggakan. Salah satunya ketika menyabet gelar juara Jakarta Golf Championship yang memperebutkan Piala Bang Yos ketika masih berstatus amatir.

”Saya menjadi Ketua Bidang Pertandingan di PGI Pengda DKI yang saat itu menggelar turnamen pro, bekerja sama dengan PGPI (Persatuan Golf Profesional Indonesia)  di Emeralda Golf Club pada 12-15 Juni 2007,” tutur Dian Mariyun, yang kini masih aktif di Bidang Pertandingan PGI Pengprov Jawa Barat. ”Andik yang kala itu masih amatir menjadi juara mengalahkan Maan Nasim.”

Andik memang sukses memberi kejutan dengan mengalahkan Maan, yang merupakan senior dan salah satu idolanya itu. Ia bermain dengan total skor 7-under 281, unggul dua stroke dari Maan.

Ia juga turun membela Indonesia dalam cabang olahraga golf pada SEA Games 2005 dan 2007. Pada edisi 2007 tersebut, ia turun bersama Hardjito, Suprapto, dan Benita Kasiadi dan berhasil mempersembahkan medali perunggu bagi Indonesia, melengkapi medali perunggu yang juga diraih Tim Putri—kala itu dimotori oleh Agnes Retno Sudjasmin, Juriah,  dan almarhum Lydia Ivana Jaya.

Karier pegolf asal Jawa Timur ini mulai menanjak sehingga pada 2008 ia akhirnya beralih sebagai pemain profesional. Dan di level profesional, bintangnya juga sempat bersinar cemerlang dengan beberapa kali menjuarai turnamen profesional berskala nasional.

Sementara itu, meskipun belum menjuarai ajang internasional, beberapa kali ia berhasil mewakili Indonesia berlaga pada ajang internasional hingga putaran final. Pada Indonesia Open 2010, misalnya, ia menjadi pegolf Indonesia dengan peringkat tertinggi. Kala itu ia finis di peringkat T44 dengan total skor 292.

Tahun 2012, dengan absennya Rory Hie pada ajang CIMB Niaga Indonesian Masters, nama Andik Mauludin tampil sebagai satu-satunya pegolf yang bermain hingga akhir pekan. Peringkatnya kala itu, T67 dengan skor 298, memang bukanlah sesuatu yang istimewa, tapi fakta bahwa ia bisa menembus putaran final adalah sesuatu yang patut dibanggakan.

Prestasi terbaiknya pada ajang Indonesia Open ia bukukan pada tahun 2012 ketika ajang tersebut digelar di Emeralda Golf Club, Cimanggis, Jawa Barat. Kala itu, Andik membukukan total 2-under 286 dan finis di peringkat T17.

Setahun kemudian, kembali ke Emeralda Golf Club, Andik kembali menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang bermain hingga putaran final pada Indonesia PGA Championship. Bermain dalam kondisi cuaca yang buruk, Andik membukukan 8-under 280 dan finis di peringkat T39.

Gelar profesional terakhir ia raih pada 2014 pada ajang Emeralda-Citra Sembilansatu Golf Tournament yang berlangsung pada 1-3 April.

Kala itu, Andik memulai putaran final dengan tertinggal tiga stroke dari Asep Saefulloh setelah hanya bermain 73 dan 71 pada dua putaran awal. Namun, pada putaran final itu, Andik bermain luar biasa. Mengawali putaran final dengan eagle di hole 1 dan birdie di hole 4, ia menutup sembilan hole pertamanya dengan 1-under setelah bogey di hole 6 dan 9. Kembali mendapat bogey di hole 11 dan 12, ia berhasil membukukan tiga birdie berturut-turut di tiga hole terakhirnya untuk memastikan keunggulan satu stroke dari George Gandranata.

”Emeralda Golf Club ini merupakan lapangan favorit saya. Jadi, tidak heran kalau saya selalu bisa main bagus kalau bertanding di sini,” tuturnya kala itu.

Sayangnya, dalam beberapa musim terakhir ini, sosoknya tak lagi terlihat ikut meramaikan kompetisi Indonesian Golf Tour. Ia lebih banyak beraktivitas pada sebuah perusahaan pembuat sarung tangan golf, bahkan sempat ikut mendesain club.

Salah satu teaching pro yang sempat melatih Andik, Sim Sanghoon dari Sim’s Golf Academy, sempat mengagumi pegolf otodidak tersebut. Ia menyebut swing milik Andik adalah swing paling bagus yang pernah ia lihat.

Kisah Andik tak melulu soal kisah kegemilangan performanya di lapangan. Ia sempat terjatuh lantaran pergaulannya. Cerita mengenai sponsor yang kecewa dengan gaya hidupnya sudah menjadi rahasia umum. Namun, sosoknya yang selalu riang dan ramah itu jelas akan menjadi sesuatu yang akan dikenang oleh siapa saja yang mengenalnya. Para wartawan golf dan olahraga pada umumnya selalu menjadi sahabat baginya, sementara ia juga mendapat respek dari para pemain yang menjadi juniornya.

”Sedih banget rasanya [kehilangan almarhum]. [Andik] adalah salah satu senior yang tulus terhadap para juniornya,” kenang Rinaldi Adiyandono.

Sebelum berpulang, Andik sempat memastikan kembali tempatnya untuk berkompetisi pada musim 2018 setelah menjadi salah satu pemain yang lolos Qualifying School di Senayan National Golf Club, Jakarta pada 25-26 Januari 2018 lalu. Namun, Sang Khalik berkehendak lain dan memanggilnya kembali. Selamat jalan Andik Mauludin.

Share.

Leave A Reply