“A Moment to Remember”

0

Oleh Chuah Choo Chiang*

Bermekarannya bunga azalea dan dogwood menandakan datangnya musim semi dan digelarnya Major pertama, The Masters Tournament. Persis pada saat yang hamper sama pulalah bintang-bintang muda baru dari Asia ikut bermekaran, menghadirkan sukacita bagi para penggemar golf di Asia.

Dari sekian banyak bakat baru dari Asia, pegolf muda asal India Shubhankar Sharma telah menjadi bahan perbincangan menyusul dua kemenangan besarnya di Afrika Selatan dan Malaysia. Belum lagi performa menakjubkannya pada World Golf Championships-Mexico Championship, ketika ia memimpin klasemen dalam 36 dan 54 hole, sebelum akhirnya finis di peringkat T9 untuk menegaskan kehadirannya pada salah satu panggung besar.

Dalam usianya yang baru 21, Sharma membuktikan dirinya sebagai salah satu pemain yang patut diperhatikan. Secara konsisten ia bisa melakukan pukulan yang lurus dengan tiap club di tasnya, ia juga sanggup menempatkan bola dengan luar biasa dan memiliki temperamen yang kalem berkat meditasi yang diajarkan ibunya sejak ia masih kecil. Belum lagi pribadinya yang rendah hati dan karakter yang bakal membuat semua orangtua merasa bangga.

Jeev Milkha Singh, salah satu pegolf terbesar India, telah melabeli pemuda senegaranya ini sebagai ”paket komplit”. Sementara Arjun Atwal, yang sejauh ini masih menjadi satu-satunya pegolf India yang pernah meraih gelar PGA TOUR, menyebut Sharma sebagai pemuda yang memiliki ”jiwa yang lebih dewasa”, dan sebutan tersebut memang terlihat dari kematangannya di dalam dan luar lapangan golf. Adapun Anirban Lahiri memprediksi kalau Sharma bakal segera menemaninya di PGA TOUR.

Ketika kecil, ayah Sharma, Kolonel Mohan Sharma bertugas di angkatan bersenjata India. Kolonel Sharma dibujuk oleh ayah Lahiri agar mengajarkan golf kepada anaknya. Dan kini Shubhankar telah memiliki nama besar di kancah Asian Tour.

Melalui beragam kesempatan untuk bermain di Asia, prospek Sharma sebagai pemain istimewa terlihat ketika mengikuti Resorts World Manila Masters 2016. Pada putaran final, ia bermain dengan skor 62 untuk finis di posisi T4, yang sekaligus mengamankan keanggotaan penuhnya pada Asian Tour musim 2017.

Pada musim 2017 itu Sharma berhasil masuk 10 besar dalam empat turnamen. Dan beberapa pekan setelah kegagalannya meraih kartu European Tour pada Qualifying School tahun lalu, ia mencatatkan kemenangan yang mengubah arah kariernya pada ajang Joburg Open di Afrika Selatan. Pencapaian ini, di antaranya, ia lakukan dengan skor 61 pada putaran kedua.

Lalu pada bulan Februari lalu, Sharma menorehkan kemenangan keduanya. Kali ini ia mencatatkan skor fenomenal lagi pada putaran final Maybank Championship di Malaysia dengan skor 62 dan menang dua stroke. Ranking dunianya pun melambung, dari 521 pada bulan November 2017, menjadi 64 dunia (per 12 Maret). Ia juga memimpin ranking Race to Dubai European Tour dan Habitat for Humanity Asian Tour.

Kesuksesan yang ia raih pada awal musim ini memberinya debut pada World Golf Championships di Mexico City. Menghadapi para bintang golf dunia, termasuk pegolf berperingkat 5 besar dan 45 pegolf yang berada di zona 50 besar dunia, Sharma justru berhasil menjulang dan memikat penggemar dan media dengan performa yang mengagumkan dan kepribadiannya yang memikat.

Dengan skor 65 dan 66 pada dua putaran awal, ia pun memimpin klasemen dalam dua hari pertama itu, plus skor 69 pada hari ketiga menempatkannya dua stroke di depan para bintang golf dunia lainnya. Ia pun berkesempatan bermain dengan anggota World Golf Hall of Fame, Phil Mickelson, yang akhirnya menjuarai ajang ini untuk gelar PGA TOUR ke-43 dalam kariernya. Hashtag #GoShubhankar pun menjadi tren pada Twitter di India pada putaran final di Meksiko itu.

Meskipun membukukan skor 74 pada putaran finalnya, Sharma masih bisa berbangga. Ia bahkan masih meluangkan waktu berfoto bersama para penggemar barunya dan memenuhi kewajibannya menemui awak media dengan penuh senyuman, meskipun ada kekecewaan besar lantaran putter-nya tak sejitu tiga putaran sebelumnya.

Namun, Mickelson yang awalnya mengira Sharma sebagai wartawan ketika pegolf India ini hendak menyapanya di atas green latihan sebelum putaran ketiga, melayangkan pujian kepada pemuda ini.

”Saya melihat betapa bagus pukulannya. Ia melakukan pukulan tee yang indah di hole 1, (dan dari situ) Anda bisa bilang kalau dia benar-benar tangguh. Saya juga melihat beberapa putt-nya, beberapa permainan putter-nya yang menonjol. Saya tahu ia pemain yang sangat berbakat dan saya percaya kalau ia memimpin Order of Merit di European Tour, jadi saya tahu Pak Sharma ini memang pemain hebat. Mungkin saya tak seharusnya menyebutnya begitu, dia 26 tahun lebih muda daripada saya!” ujar Mickelson, yang mengalahkan Juara FedExCup Justin Thomas dengan par pada hole play-off pertama untuk menjuarai WGC-Mexico Championship itu.

Ketika Sharma dalam penerbangan jauhnya kembali ke Delhi, kekecewaan tersebut seakan sirna begitu ia menerima panggilan telepon dari Augusta National Golf Club, yang memberi tahu dirinya bahwa ia mendapat undangan khusus untuk bermain pada The Masters Tournament. Dan ini bakal menjadi debutnya pada ajang Major.

Ia langsung beralih ke Twitter dan mengungkapkan perasaannya: ”Saya sungguh merasa terhormat mendapati undangan yang sangat berharga dari Komite The Masters. Ini mimpi yang jadi kenyataan. Saya sungguh bersyukur.”

Apa pun hasilnya pada The Masters ini, di tengah berkembangnya azalea dan dogwood di Augusta National, melejitnya karier Sharma yang turut diikuti oleh sesama pegolf Asia asal China Li Haotong, dan pegolf Thailand Kiradech Aphibarnrat menunjukkan betapa bagusnya dampak yang mereka berikan bagi pertumbuhan golf di Asia dan di seluruh dunia.

Tentulah Sharma akan mengenang momen ketika ia melintasi Magnolia Lane dan jalan menuju ketenaran. Pintu PGA TOUR pun bisa jadi tinggal selangkah lagi. Yang pasti, musim semi ini bakal menjadi musim yang bakal dikenang oleh Sharma dan publik golf Asia.

 

Chuah Choo Chiang mulai menjabat sebagai Senior Director Communications PGA TOUR dan berkantor di TPC Kuala Lumpur mulai Agustus 2017. Sempat bertugas sebagai jurnalis olahraga pada dua surat kabar terkemuka di Malaysia selama 10 tahun dan menjabat sebagai Deputy Sports Editor pada Sun Newspapersebelum bergabung dengan Asian Tour pada tahun 2000 dan terakhir bertugas sebagai Director of Communications di sana.

Share.

Leave A Reply